Masa Nifas Beserta Ketentuannya Dalam Islam

https://www.abusyuja.com/2021/02/masa-nifas-beserta-ketentuannya-dalam-islam.html
Nifas menurut bahasa adalah melahirkan, sedangkan menurut istilah syara’ adalah darah yang keluar melalui kemaluan (farji) perempuan setelah melahirkan atau belum melebihi 15 haru setelahnya, bila darah tidak langsung keluar.

Adapun darah yang keluar saat  melahirkan tidak disebut darah nifas. Dan hukumnya sebagai berikut:

Hukum Pertama

Apabila darah tersebut bersambung dengan darah haid sebelumnya, maka disebut darah haid. Contoh: Wanita hamil mengeluarkan darah selama 3 hari, kemudian melahirkan dan darah terus keluar sampai 20 hari setelah melahirkan.

Maka, darah yang keluar selama 3 hari dan saat melahirkan serta darah yang keluar bersamaan dengan anak disebut darah haid. Sedangkan darah yang keluar setelah melahirkan selama 20 hari disebut darah nifas.

Hukum Kedua

Apabila darah tersebut bersambung dengan darah sebelumnya namun tidak mencapai masa minimal haid (24 jam) atau tidak bersambung dengan darah sebelumnya, maka darah tersebut dihukumi istihadhah.

Contoh: Wanita hamil keluar darah selama 20 jam, setelah itu melahirkan dan darah terus keluar sampai 20 hari. Maka, darah yang keluar selama 20 jam dan darah yang keluar saat melahirkan serta darah yang bersamaan dengan keluarnya bayi disebut darah istihadhah. Kemudian darah yang keluar selama 20 hari berturut-turut disebut darah nifas.

Contoh 2: Wanita hamil keluar darah selama 5 hari, kemudian darah berhenti selama 1 hari, lalu melahirkan dan keluar darah sampai 20 hari. Maka, darah yang keluar 5 hari pertama disebut darah haid, dan darah yang keluar saat melahirkan dan yang keluar bersamaan dengan bayi disebut darah istihadhah.

Untuk darah yang keluar setelah melahirkan selama 20 hari disebut darah nifas. Sedangkan 1 hari masa tidak keluar darah dihukumi suci yang memisah antara darah haid dan nifas.

Hukum Ketiga

Apabila darah yang keluar setelah melahirkan dengan selang waktu 15 hari atau lebih, maka disebut darah haid, bilamana memenuhi syarat-syarat haid. Contoh: Wanita melahirkan tanggal 1, kemudian tidak keluar darah sampai tanggal 17, lalu keluar darah selama 3 hari.

Maka, wanita darah yang keluar selama 3 hari tersebut dihukumi darah haid. Dan waktu antara lahirnya bayi dengan keluarnya darah (16 hari) dihukumi suci. Jadi ia tetap melakukan kewajiban sebagaimana mukalaf pada umumnya.

Ketentuan-ketentuan darah nifas dalam Islam

Minimal masa nifas adalah “sebentar”, “sedikit”, atau “satu tetes” walaupun hanya sekejap. Sedangkan maksimal masa nifas adalah 60 hari 60 malam, dan umumnya wanita nifas adalah 40 hari 40 malam. Penghitungan maksimal masa haid (60 hari 60 malam) dihitung mulai dari keluarnya seluruh anggota tubuh bayi dari rahim (sempurnanya melahirkan).

Sedangkan yang dihukumi nifas adalah mulai dari keluarnya darah, dengan syarat darah tersebut keluar sebelum 15 hari dari keluarnya bayi. Sehingga andai saja ada seorang ibu melahirkan pada tanggal 1, kemudian pada tanggal 5 baru mengeluarkan darah, maka penghitungan masa maksimal nifas (60 hari-60 malam) dihitung mulai tanggal 1, dan yang dihukumi nifas mulai tanggal 5. Sedangkan waktu antara lahirnya bayi sampai keluarnya darah (tanggal 5) dihukumi suci.

Setelah melahirkan darah yang keluar terputus-putus?

Apabila seorang wanita setelah melahirkan mengeluarkan darah secara terputus-putus, maka hukumnya sebagai berikut:

Pertama, jika seluruh darah yang keluar tidak melebihi 60 hari 60 malam dari lahirnya anak dan putusnya tidak sampai 15 hari, maka keseluruhannya dihukumi nifas.

Contoh: seorang ibu setelah melahirkan anak langsung mengeluarkan darah selama 5 hari. Kemudian berhenti (tidak keluar darah) selama 10 hari, keluar lagi selama 10 hari, berhenti lagi selama 13 hari, keluar lagi selama 8 hari.

Maka, keseluruhannya dihukumi nifas. Dan di saat darah berhenti, dia diwajibkan melaksanakan kewajiban beribadah sebagaimana mukalaf pada umumnya.

Kedua, jika keseluruhan darahnya masih dalam masa 60 hari 60 malam dari lahirnya bayi, dan berhentinya darah mencapai 15 hari atau lebih, maka darah sebelum masa berhenti dihukumi bifas dan darah setelah berhenti dihukumi haid, bila memenuhi ketentuan haid.

Dan bila tidak memenuhi ketentuan haid, maka dihukumi istihadhah. Sedangkan masa berhentinya darah dihukumi suci yang memisahkan antara nifas dan haid.

Contoh: Seorang ibu setelah melahirkan keluar darah selama 10 hari. Kemudian berhenti selama 16 hari, keluar lagi selama 6 hari. Maka, darah 10 hari disebut nifas, 5 hari dihukumi haid, dan masa berhentinya darah selama 16 hari dihukumi suci yang memisah antara nifas dan haid.

Ketiga, jika darah yang pertama masih dalam masa 60 hari dari lahirnya bayi dan darah kedua di luar masa 10 hari 60 malam setelah lahirnya bayi, maka darah yang awal disebut nifas sedangkan darah yang kedua disebut haid, bila memenuhi ketentuannya. Sedangkan masa-masa terputusnya darah dihukumi suci yang memisah antara nifas dan haid.

Contoh: Seorang ibu yang baru saja melahirkan langsung mengeluarkan darah 59 hari. Kemudian putus selama 2 hari, keluar lagi selam 5 hari. Maka, 59 hari dihukumi nifas dan 5 hari dihukumi haid. Sedangkan masa terputusnya darah yaitu selama 2 hari dihukumi suci yang memisah antara haid dan nifas.

Itulah beberapa ketentuan mengenai masa nifas lengkap dengan contoh-contohnya. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat. Wallahu A’lam

Referensi:

Hasyiyah al-Bajuri, Juz 1: 109, 111-112

Al-Iqna’, Juz 1: 82

Al-Syarqawi, Juz 1: 157

Hasyiyah al-Bujarimi, Juz 1: 341-342, 351, 352

Al-Turmusi, Juz 1: 541-542

Raudlatuth Thalibin, Juz 1: 178

Hawasyi al-Madaniyyah, Juz 1: 196

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel