Sejarah Berdirinya PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)

PMII, atau yang disingkat dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Indonesian Moslem Student Movement), lahirnya PMII bukan berjalan mulus, banyak sekali hambatan dan rintangan. Hasrat mendirikan organisasi NU sudah lama bergolak.

Namun pihak NU belum menganggap perlu adanya organisasi tersendiri buat mewadahi anak-anak NU yang belajar di perguruan tinggi. Banyak organisasi Mahasiswa bermunculan di bawah naungan payung induknya.

Misalkan saja HMI yang dekat dengan Masyumi, SEMI dengan PSII, KMI dengan PERTI, IMM dengan Muhammadiyah dan Himmah yang bernaung di bawang Al-Washliyah. Wajar saja jika kemudian anak-anak NU ingin mendirikan wadah tersendiri dan bernaung di bawah panji bintang sembilan.

Sampai pada kongres IPNU yang ke-2 (awal 1957 di Pekalongan) dan ke-3 (akhir 1958 di Cirebon), NU belum memandang perlu adanya wadah tersendiri bagi anak-anak mahasiswa NU. Namun kecenderungan ini sudah mulai diantisipasi dalam bentuk kelonggaran menambah Departemen Baru dalam kestrukturan organisasi IPNU, yang kemudian departemen ini dikenal dengan nama DPT (Departemen Perguruan Tinggi) IPNU.

Baru setelah Konferensi Besar IPNU (14-16 Maret 1960 di Kaliurang), disepakati untuk mendirikan wadah tersendiri bagi mahasiswa NU, yang disebut dengan berkumpulnya tokoh-tokoh mahasiswa NU yang tergabung dalam IPNU, dalam sebuah musyawarah bersama selama tiga hari (14-16 April 1960) di Taman Pendidikan Putri Khadijah (Sekarang UNSURI) Surabaya.

Dengan semangat membara, mereka membahas nama dan bentuk organisasi yang telah lama mereka idam-idamkan. Bertepatan dengan itu, Ketua Umum PBNU, KH. Idham Khalid memberikan lampu hijau. Bahkan memberi semangat kepada mahasiswa NU agar mampu menjadi kader partai, menjadi mahasiswa yang mempunyai prinsip, “Ilmu untuk diamalkan, bukan ilmu untuk ilmu”.

Maka lahirlah organisasi mahasiswa di bawah naungan NU pada tanggal 17 April 1960. Kemudian organisasi itu diberi nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Di samping latar belakang lahirnya PMII seperti di atas, sebenarnya pada waktu itu anak-anak NU yang ada di organisasi lain seperti HMI merasa tidak puas atas pola gerak HMI. Menurut mereka (mahasiswa NU), bahwa HMI sudah berpihak pada satu golongan yang kemudian ditengarai bahwa HMI adalah underbow-nya partai Masyumi, sehingga wajar kalau mahasiswa NU di HMI juga mencari alternatif lain.

Hal ini juga diungkap oleh Deliar Noer (1987), beliau mengatakan bahwa PMII merupakan cerminan ketidakpuasan sebagian mahasiswa muslim terhadap HMI, yang dianggap bahwa HMI dekat dengan golongan modernisme (Muhammadiyah) dan dalam urusan politik lebih dekat dengan Masyumi.

https://www.abusyuja.com/2021/02/sejarah-berdirinya-pmii-pergerakan-mahasiswa-islam-indonesia.html
Ide dasar pendirian PMII adalah murni dari anak-anak muda NU sendiri (Sumber Foto: djawanews) 

Dengan demikian, ide dasar pendirian PMII adalah murni dari anak-anak muda NU sendiri. Bahwa kemudian harus bernaung di bawah panji NU itu bukan berarti sekedang pertimbangan praktis semata, misalnya karena kondisi pada saat itu yang memang nyaris menciptakan iklim dependensi sebagai suatu kemutlakan.

Tetapi, keterikatan PMII kepada NU memang sudah terbentuk dan sengaja dibangun atas dasar kesamaan nilai, kultur, akidah, cita-cita dan bahkah pola pikir, bertindak dan berperilaku.

Kemudian PMII harus mengakui dengan tetap berpegang teguh pada sikap Dependensi timbul berbagai pertimbangan menguntungkan atau tidak dalam bersikap dan berperilaku untuk sebuah kebebasan menentukan nasib sendiri.

Oleh karena itu harus diakui, bahwa peristiwa besar dalam sejarah PMII adalah ketika dipergunakannya istilah Independent dalam deklarasi Murnajati tanggal 14 Juli 1972 di Malang dalam MUBES III PMII, seolah telah terjadi pembelahan diri anak ragil NU dari induknya.

Sejauh pertimbangan-pertimbangan yang terekam dalam dokumen historis, sikap independen itu tidak lebih dari proses pendewasaan. PMII sebagai generasi muda bangsa yang ingin lebih eksis di mata masyarakat bangsanya ini terlihat jelas dari tiga butir pertimbangan yang melatarbelakangi sikap. Independensi PMII tersebut di antaranya adalah:

  1. PMII melihat pembangunan dan pembaharuan mutlak memerlukan insan-insan Indonesia yang berbudi luhur, takwa kepada Allah Swt., berilmu dan cakap serta tanggungjawab, bagi keberhasilan pembangunan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh rakyat.
  2. PMII selaku generasi muda Indonesia sadar akan perannya untuk ikut serta bertanggungjawab, bagi keberhasilan pembangunan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh rakyat.
  3. Bahwa perjuangan PMII yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan idealisme sesuai Deklarasi Tawangmangu, menurut berkembangnya sifat-sifat kreatif, keterbukaan dalam sikap, dan pembinaan rasa tanggungjawab.

Berdasarkan pertimbangan itulah, PMII menyatakan diri sebagai “Organisasi Independent”, tidak terikat baik sikap maupun tindakan kepada siapapun, dan hanya berkomitmen terhadap perjuangan organisasi dan cita-cita perjuangan nasional yang berlandaskan Pancasila.

Itulah sejarah singkat berdirinya PMII atau Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Semoga apa yang kami sampaikan dapat menambah wawasan sejarah Anda. Wallahu A'lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel