Allah Memberi Buah Hati setelah 5 Tahun Menanti

Allah Memberi Buah Hati setelah 5 Tahun Menanti
Berikut adalah kisah inspiratif dari Ust. Basthoni, Kepala Madrasah Salafiyyah al-Ishlah Semarang. Simak ceritanya:

Setiap orang yang telah menikah kebanyakan ingin cepat memiliki anak. Sebab, bagi keluarga, kehadiran anak adalah rahmat. Anak adalah penerus perjuangan orang tua. Bisa jadi keluarga akan cerai berai lantaran tidak memiliki anak. Rumah juga terasa sepi tanpa kehadiran belahan jiwa. Jika dalam waktu lama suami-istri tidak dikaruniai anak, batin mereka akan tersiksa. Apalagi orang-orang sering bertanya, “Sudah punya anak?” atau “Anakmu berapa?” Padahal pertanyaan-pertanyaan seperti itu lumrah ditanyakan kepada orang yang telah berkeluarga. 

Memang tidak semua pohon mampu berbuah. Ada yang hanya menawarkan keindahan melalui bunga. Ada yang cuma menghadiahi keteduhan dan kesegaran. Ada juga yang hanya memberikan khasiat mujarab dari akar, batang, atau daunnya. Di antara buah dari pohon adalah anak. Anaklah yang menghiasi perkawinan menjadi teramat indah. Di situ ada harapan, tantangan, ujian, bahkan hiburan. Indahnya menatap senyum anak dan sedemikian prihatinnya mendengar tangis anak. Senyum dan tangisnya kian membuat ikatan pernikahan menjadi lebih kuat. 

Ah, alangkah bahagia kalau punya anak,” kataku. 

Aku menikah tahun 2003 dan sejak saat itu aku ingin segera memiliki anak. Tetapi lama kumenunggu, istri tak kunjung hamil. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, berjalan. Tetapi tanda-tanda kehamilannya tak kunjung kelihatan. Terjadi pergolakan batin yang keras antara ingin memiliki anak di satu sisi, tetapi di sisi lain belum dikaruniai anak oleh-Nya. 

Yang penting saat itu aku harus selalu husnuzan (berprasangka baik) kepada Allah. Dalam hatiku mengatakan, apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi pasti sudah diskenario Allah. Dan aku yakin bahwa kejadian yang menimpa keluargaku adalah yang paling baik menurut Allah. Karena Allah tak pernah menciptakan sesuatu tanpa ada manfaatnya.

Berbagai usaha telah kulakukan, tetapi semuanya kupasrahkan kepada Allah. Begitu juga segala nasihat sudah kujalankan: ke dokter sudah, makan kurma muda sudah, makan merpati tanah haram sudah, dan banyak usaha lain. Tapi, sekali lagi, usaha-usaha itu tak menentukan, karena hanya Allah yang mampu memberinya. Sering aku memanjatkan doa kepada Allah kapan saja khususnya di sepertiga malam. Saat itulah waktu terbaik bagiku untuk berkomunikasi kepada Allah. 

Setelah lelah menunggu selama 4 tahun dalam suasana tak menentu, akhirnya istri hamil. Puji syukur kupanjatkan kepada Allah atas karunia terbesar yang diberikan padaku. Dan, akhirnya, pada tanggal 1 November 2008, anakku lahir ke dunia dengan selamat. 

Itulah mungkin fadhilah doa yang mampu mengubah takdir, khususnya di waktu sepertiga malam. 

Pengalaman lain yang kudapatkan dari tahajud adalah, “Semua urusan dilancarkan seperti ces pleng. Kelancaran rezeki seperti tidak terduga sebelumnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel