Kisah Islami: Pertolongan Datang Tepat Saat Dibutuhkan

Kisah Islami: Pertolongan Datang Tepat Saat Dibutuhkan
Apakah teman-teman pernah merasa benar-benar membutuhkan uang, namun tidak tahu bagaimana mendapatkannya? Malu untuk meminta kepada orang tua? Malu meminta bantuan saudara? 

Aku pernah merasakan itu. Ketika itu, aku masih kuliah semester 8, yang kata orang sudah semester tua. Pada waktu itu, aku hanya disibukkan dua hal, yaitu skripsi dan mencoba mencari uang sendiri dengan membantu proyek dari Dosen. Namun, yang namanya proyek, gaji tidak bisa dipastikan datangnya kapan, jadi cuma harap-harap cemas ketika aku membutuhkannya. Dan, aku juga tidak punya kekuatan untuk menuntut gaji itu datang. Memang itulah konsekuensi dari pekerjaan proyek.

Pernah suatu ketika aku benar-benar membutuhkan uang untuk mempertahankan hidup. Tabunganku semakin menipis, sementara aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan meminta uang kepada bapak atau kakak kecuali benar-benar terpaksa. Aku mau mengeluh pada asisten dosen, tapi aku juga masih malu karena belum terlalu dekat dengannya. Akhirnya aku hanya bisa merenung di dalam kamar kontrakan. Aku termenung dengan nasib yang sedang aku jalani. Aku mulai berpikir, dari mana aku bisa dapatkan uang? Ketika pikiran sudah mulai buntu, mataku tertuju pada salah satu tulisan di dinding kamar yang sering memotivasiku ketika aku down. Tulisan tersebut aku tulis beberapa hari yang lalu:

Jika sendiri, janganlah merasa sendiri, ada Allah yang menemani. Jika sedih, janganlah dipendam di hati, ada Allah tempat berbagi. Jika susah jangan ada pilu, ada Allah tempat mengadu. Jika gagal, jangan putus asa, ada Allah tempat memuja. Ingatlah, niscaya Allah akan selalu menjagamu.

Aku serasa mendapat teguran dari Allah, Sang Pengabul permintaan hamba-Nya. Aku mulai fokus kepada Allah. Aku coba menggali lagi ilmu-ilmu agamaku yang pernah aku dapatkan selama 21 tahun ini. Yang aku inget, ketika salat, aku bisa langsung ngobrol dengan Allah. Akhirnya aku ambil buku pedoman tuntunan salat. Aku mulai buka-buka lagi per halaman, dan akhirnya aku temukan bab tentang salat dhuha. Aku baca dan aku buka kembali memori yang pernah aku isi dengan salat dhuha. Ya, salat yang dapat bermanfaat untuk melapangkan rezeki bagi yang melaksanakannya. Mungkin pemahaman itu untuk orang-orang awam sepertiku. Tanpa ragu lagi, aku mulai ambil wudhu dan segera salat dhuha, setelah sekian lama salat tersebut aku lupakan. Setelah salat, aku berdoa dan aku pasrahkan urusan kebutuhan uangku kepada Allah. Dengan penuh keyakinan, aku merasa dalam waktu dekat, Allah pasti akan memberikan pertolongan-Nya untukku.

Tiga hari telah aku lalui dengan selalu melaksanakan salat dhuha. Tiba-tiba ada telepon dari dosen, katanya aku ditugaskan untuk mengirim Peta Proyek ke Probolinggo.

Al-Hamdulilahi Rabbil ‘Alamiin… Allahu Akbar.

Aku merasa inilah pertolongan Allah. Dengan semangat berapi-api, aku pergi ke rumah dosen dan ternyata benar, beliau menugaskanku untuk mengirim Peta Proyek ke Probolinggo. Untuk penugasan tersebut, aku diberikan dana Rp. 150.000,00.

Al-Hamdulilah, Kau buktikan Kebesaran-Mu. Mungkin bagi sebagian orang, nilai uang itu tidak seberapa, namun bagiku ketika itu, uang tersebut sangat berarti untukku. Akhirnya, aku pergi ke Probolinggo dengan menggunakan motor, karena hanya dengan alat transportasi itulah aku bisa meminimalisir pengeluaran. Dan, Al-Hamdulillah, setelah tugas aku selesaikan, aku masih bisa mengantongi uang hasil jerih payah berkat pertolongan Allah sekitar Rp 120.000,00. Uang tersebut sangat berarti untuk menyambung hidupku di perantauan di kota Malang.

Aku belajar dari pengalaman yang telah aku rasakan sendiri. Bahwa Allah tidak pernah ingkar dengan janji-Nya. Aku sangat yakin kepadanya. Namun, aku sadar, ada kesalahan dalam pengalamanku itu. Aku salat dhuha hanya untuk meminta uang kepada Allah Swt. 

Astaghfirullahal ‘Adzim. Maafkanlah aku ya Allah. Pembelajaran tentang pembuktian janji-Mu telah membuka mata hatiku bahwa Kau memang Agung. Kau kabulkan dan Kau berikan pertolongan kepada hamba-Mu yang melakukan salat hanya untuk meminta uang kepada-Mu. Dari pengalaman tersebut aku belajar lagi, apakah sebenarnya tujuanku salat dhuha? Aku harus segera mengoreksi kesalahanku. Dan aku mulai memantapkan hati bahwa salat dhuha merupakan wujud penghambaan diriku kepada Allah, merupakan wujud pembuktian betapa aku sangat yakin akan-Mu. Kaulah pemegang hidupku, matiku, rezekiku, dan jodohku.”

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel