Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 168-169

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 168-169
Nabi Saw. bersabda, “Tidak ada makanan yang dimakan seseorang yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Daud as. selalu makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Bukhari dan Nasa’i)

Hadis di atas menegaskan bahwa sebaik-baiknya rezeki atau makanan yang dimakan seseorang adalah hasil dari usahanya sendiri. Adapun yang dimaksud dengan usahanya sendiri adalah hasil kerja keras dengan jalan yang baik dan benar, tidak dengan jalan meminta-minta atau bahkan mengambil jalan pintas yang dilarang agama, seperti mencuri, merampok, menipu, dan lain-lain. Di dalam hadis tersebut, Nabi Muhammad Saw. memberikan contoh, bahwa Nabi Daud as. makan dari usaha atau kerja kerasnya sendiri.

QS. Al-Baqarah ayat 168-169:

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 168-169)

Dari ayat di atas, dapat kita ambil beberapa poin kesimpulan bahwa:

Pertama, perintah untuk mengonsumsi rezeki halal dan baik yang terdapat di bumi Allah Swt.

Kedua, larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan, yaitu langkah-langkah yang bertentangan dengan agama. Begitu pun dengan mencari rezeki, haram hukumnya menggunakan langkah-langkah yang bertentangan dengan agama, seperti mencuri, menipu, merampok, dan lain sebagainya.

Dalam riwayat Ibnu Abas, diceritakan bahwa Nabi Daud-pun memakan dari hasil usahanya sendiri, beliau bekerja sebagai tukang besi, Nabi Adam as., beliau bekerja sebagai petani, Nabi Nuh as., bekerja sebagai tukang kayu, dan Nabi Musa as., bekerja sebagai penggembala kambing.

Selain itu, dapat dikatakan bahwa dengan kerja keras demi memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya akan menjaga kehormatan atau harga diri dan mengangkat derajatnya baik di hadapan Allah maupun di hadapan sesama manusia.

Di dalam ilmu jiwa atau psikologi diakui bahwa kehormatan atau harga diri merupakan salah satu kebutuhan mendasar bagi manusia setelah kebutuhan untuk tetap hidup (survive).

Untuk menjaga kehormatan seseorang harus selalu menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang terpuji. Memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia tidak boleh diabaikan. Begitu pula dengan hal-hal dirinya sendiri.

Maka dari itu, mereka harus menjauhi diri dari sifat-sifat dan perbuatan tercela seperti bermalas-malasan (berpangku tangan) yang akhirnya menimbulkan tindakan minta-minta, mencuri, merampok, dan sebagainya.

Padahal kita tahu bahwa sifat dan perbuatan tercela akan melahirkan akibat buruk. Selanjutnya akibat buruk akan mendatangkan sangsi atau hukuman baik dari Allah maupun dari masyarakat.

Untuk itulah setiap muslim harus menyiapkan dirinya untuk mencari pekerjaan. Sebab tidak seorang Nabi pun kecuali bekerja keras dalam salah satu lapangan pencaharian.

Tidak boleh bermalas-malasan, mengharap belas kasih orang lain. Makanan yang dihasilkan dari usahanya sendiri dengan jalan kerja keras selain mendapat keberkahan terasa dari Allah, juga terasa lebih nikmat.

Maksudnya, memakan rezeki dari hasil jerih payah sendiri akan mendatangkan suatu kenikmatan sendiri dibandingkan memakan dari hasil yang instan seperti meminta-minta misalnya.

Kesimpulannya, makanan yang paling baik adalah makanan yang diperbolehkan dari hasil usahanya sendiri dengan jalan bekerja. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para Nabi kita, mereka telah bekerja keras untuk memperoleh rezeki/makanan.

Dan terakhir, orang mukimin tidak boleh menggantungkan hidupnya kepada pemberian atau belas kasihan orang lain.

Itulah tafsir dari QS. Al-Baqarah ayat 168 dan 189. Semoga bermanfaat. Wallah A’lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel