Hukum Zina Bagi yang Sudah Bersuami atau Beristri

Hukum Zina Bagi yang Sudah Bersuami atau Beristri_Zina merupakan sebuah tindakan yang dilarang oleh agama, zina sendiri ada bermacam-macam, dari segi status, zina terbagi menjadi dua, zina Muhshan dan Ghairu Muhshan.

Zina Muhshan adalah zina yang dilakukan oleh orang yang terjaga, atau orang yang sudah pernah melakukan hubungan intim secara sah dan diperbolehkan oleh agama.

Sedangkan Zina Ghairu Muhshan adalah zina yang dilakukan oleh orang yang tidak terjaga, atau belum pernah melakukan hubungan intim dan sering juga kita sebut sebagai perawan atau perjaka.

Baca Juga :

Zina sendiri memiliki beberapa definisi. Dan yang akan kita bahas sekarang adalah zina dalam melakukan hubungan intim yaitu antara laki-laki dengan perempuan tanpa ada ikatan perkawinan yang sah didalam agama.

https://abusyuja.blogspot.com/2019/08/hukum-zina-bagi-yang-sudah-bersuami-atau-beristri.html
Hukum zina disini merupakan ketetapan dari jendela hukum islam, sedangkan kita warga indonesia memiliki ketetapan hukum tersendiri, yaitu Undang-Undang Dasar 1945.

Indonesia sendiri tidak menetapkan hukum zina versi islam karena bertentangan dengan HAM atau Hak Asasi Manusia.

Tetapi, mengetahui hukum zina dalam islam merupakan hal yang perlu. Mengingat, masih ada beberapa negara yang memakai dasar hukum ini untuk dijadikan pedoman hukum zina. Seperti Somalia, Arab saudi dan negara-negara islam lainnya.

Hukum Zina Bagi yang Sudah Bersuami atau Beristri


Hukum Zina bagi yang sudah bersuami atau beristri adalah Rajam. Rajam adalah mengubur pelaku zina  hingga yang terlihat cuma bagian dada dan kepalanya saja, kemudian dilempari batu berukuran sedang hingga mati.

Hukum rajam bagi pezina juga telah dijelaskan dalam hadist riwayat Muslim :
https://abusyuja.blogspot.com/2019/08/hukum-zina-bagi-yang-sudah-bersuami-atau-beristri.html
Hukum zina rajam hanya berlaku untuk pelaku pezina yang memenuhi syarat-syarat dibawah ini :

  • Baligh (Bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk)
  • Merdeka (buka budak)
  • Sudah pernah berhubungan intim dengan pasangan yang sah sebelumnya.
Dari syarat hukum rajam yang ketiga maksudnya adalah orang tersebut pernah bersetubuh dengan suami atau istri sahnya meskipun belum pernah inzalul mani (mengeluarkan sperma) sama sekali.

Ketentuan Hukum Rajam Bagi Pezina Muhshan


Hukum zina Muhshan adalah rajam. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, Muhshan adalah orang yang sudah pernah melakukan hubungan intim dengan suami atau istrinya secara sah menurut agama.

Apabila orang tersebut telah cerai dan menyandang status duda, maka orang tersebut terap dikategorikan Muhshan.

Dan hal ini juga berlaku apabila ada perempuan yang sudah pernah bersuami, kemudian bercerai, lalu perempuan tersebut berzina ketika statusnya sudah janda, maka hukum zina bagi perempuan tersebut  adalah Rajam. (Sumber : Kitab Fathul Mu'in).

Itulah pembahasan mengenai Hukum Zina Bagi yang Sudah Bersuami atau Beristri. Semoga dapat menambah wawasan anda.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel