6 Kalimat yang Bikin Kamu Selamat dari Fitnah Dunia

Abusyuja.com_Dewasa ini, stigma negatif hasil produksi dari pabrik fitnah kian merajalela. Umat Islam dituntut untuk cerdas dalam menyikapi masalah ini, terutama dalam edukasi pola pikir untuk menunjang kemampuan diri dalam menjaring informasi antara fakta dan "woro-woro" ngawur.
http://www.abusyuja.com/2020/06/6-kalimat-bisa-yang-bikin-selamat-dari-fitnah-dunia.html
Pada kesempatan kali ini, Abusyuja akan menceritakan sebuah kisah yang dikutip langsung dari kitab Tanbihul Ghafilin karya Al-Faqih Nasr bin Muhammad bin Ibrahim. Kisah ini menceritakan tentang seseorang yang telah berhasil membentuk pola pikir hebat dalam menyikapi fitnah dunia. Berikut ceritanya:

Alkisah, ada seorang ulama yang ditanyai oleh seorang cendikiawan, beliau bernama Hatim Al Asham sedangkan yang satunya lagi bernama Syaqiq, "Sejak kapan kamu rajin datang kepadaku?" Hatim menjawab, "Sejak 30 tahun." Syaqiq bertanya lagi, "Apa yang telah kamu pelajari selama 30 tahun?" Hatim menjawab, "Saya telah belajar enam kalimat yang seandainya saya mengamalkannya, saya berharap bisa selamat dari fitnah dunia."

Syaqiq pun akhirnya penasaran, kemudian beliau bertanya lagi, "Apakah enam kalimat itu wahai saudaraku, barangkali aku dapat mengamalkannya, sehingga aku bisa selamat."

Hatim berkata, "Keenam kalimat itu adalah sebagai berikut."
  1. Saya menyadari bahwa saya adalah salah satu diantara binatang yang melata, yang rezekinya dijamin oleh Allah Subhanahu wa ta'ala. Dan saya memaklumi bahwa apa yang menjadi bagian saya tentu akan sampai kepadaku. Allah Swt. memberikan rezeki kepada gajah yang besar dan tidak terlupakan nyamuk yang sangat kecil. Oleh karena itu, saya serahkan urusan rezeki ini kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan saya memutuskan untuk menyibukkan diri dengan ibadah dan saya tidak mempedulikan yang lainnya. 
  2. Saya beranggapan bahwa semua orang mukmin adalah saudaraku, dan setiap saudara harus saling bersikap sayang pada saudara yang lain. Saya melihat bahwa permusuhan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat itu penyebab utamanya adalah rasa dengki. Oleh karena itu saya sangat bersungguh-sungguh untuk menghilangkan rasa dengki dari dalam hatiku sehingga hatiku berubah. Dan seandainya ada orang mukmin di belahan bumi bagian timur tertimpa musibah, maka saya akan merasa sedih seolah-olah musibah itu menimpa diriku. Demikian pula seandainya ada seorang muslim di belahan bumi bagian barat memperoleh kebahagiaan, maka saya akan merasa senang seolah-olah kesenangan itu terjadi pada diriku.
  3. Saya melihat bahwa setiap orang itu mempunyai kekasih, dan setiap kekasih harus membuktikan rasa cintanya. Saya berpendapat bahwa kekasihku adalah "taat kepada Allah" Subhanahu Wa Ta'ala, karena segala sesuatu yang saya cintai akan putus selain taat kepada-Nya.
  4. Saya melihat bahwa setiap orang itu mempunyai musuh dan setiap orang yang mempunyai musuh pasti akan hati-hati dan selalu waspada. Saya melihat bahwa musuhku adalah orang kafir dan setan. Saya menyadari bahwa permusuhan dengan orang kafir itu lebih ringan, karena seandainya ia berkelahi dan membunuh sehingga saya mati, maka kematianku adalah mati syahid dan seandainya saya bisa membunuhnya, maka saya akan mendapatkan pahala. Sedangkan permusuhan dengan setan itu sangatlah berat karena ia bisa melihat saya dan saya tidak bisa melihatnya. Dan ia juga selalu berusaha untuk menarik diriku supaya masuk mereka. Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk memeranginya selama saya masih hidup dan meninggalkan permusuhan kepada yang lainnya (sesama manusia).
  5. Saya melihat bahwa setiap orang itu mempunyai rumah dan setiap rumah itu perlu dibangun. Saya menyadari bahwa rumahku yang sebaiknya adalah kubur. (Jadi tidak ada rumah yang bisa kaubanggakan di dunia ini selain kuburan)
  6. Saya melihat bahwa segala sesuatu itu ada yang mengejarnya. Dan yang mengajar saya adalah malaikat maut. Saya tidak tahu kapan saya akan tertangkap olehnya. Oleh karena itu, saya selalu bersiap-siap menanti kedatangannya, bagaikan temanten putri yang sedang menunggu, hingga kapanpun ya datang, maka saya tidak akan menunda-nunda lagi.
Itulah enam kalimat yang dipelajari Hatim selama 30 tahun. Mungkin agak terkesan fanatik akhirat hingga terkesan buta duniawi. Tetapi kami cuma mau menegaskan, pola pikir seperti di atas inilah yang ternyata membuat kita selalu dekat dengan Allah Swt.

Hal seberat apapun akan jadi ringan apabila sandaran kita adalah Allah Swt. Sejauh apapun tujuan hidup kita, apabila kita sandarkan diri kepada Allah, maka segala halangan dan rintangan akan menjadi mudah.

Satu hal lagi, mengenai fitnah dunia, beliau menyimpulkan bahwa hal tersebut terjadi apabila ada rasa dengki dalam hati kita. Maka dari itu, menanamkan empati dan simpati adalah solusi terbaik untuk memperkuat tali persaudaraan umat Islam. Wallahu A'lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel