Dusta (Kebohongan) Yang Dibolehkan Dalam Rumah Tangga

Abusyuja.com_Sesungguhnya, syariat Islam memperbolehkan seorang suami berdusta kepada istrinya, ataupun sebaliknya, istri boleh berdusta kepada suaminya. Dengan catatan, selama masih dalam batasan-batasan yang dibolehkan demi menjaga ikatan kasih sayang di antara mereka berdua.

Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah halal dusta kecuali pada tiga perkara: seorang suami berbohong kepada istrinya untuk membuat istrinya ridho, berdusta tatkala perang, dan berdusta untuk mendamaikan (memperbaiki hubungan) di antara manusia.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat tentang makna dusta yang diperbolehkan. Ada yang berpendapat bahwa dusta tersebut adalah dusta yang hakiki, karena dusta yang diharamkan adalah yang memberi madharat (bahaya) bagi kaum muslimin.

http://www.abusyuja.com/2020/07/dusta-kebohongan-yang-dibolehkan-dalam-rumah-tangga.html
Sumber Gambar : brainbalancecenters.com/

Adapun dusta yang diperbolehkan yaitu yang ada maslahatnya (kebaikan) bagi kaum muslimin, dan penyebutan tiga perkara di atas adalah hanya sebagai perumpamaan.

Pendapat yang lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan dusta yang diperbolehkan adalah mengucapkan kalimat yang benar dan bukan dusta, namun dengan tujuan agar pendengar memahami makna yang lain dan bukanlah dusta yang hakiki. Akan tetapi, bolehnya berdusta antara suami dan istri ada batasnya, yaitu dengan syarat tidak sampai menjatuhkan hak salah seorang dari keduanya.

Al-Qadhi ‘Iyadh berkata bahwa penipuan (kedustaan) untuk menghalangi hak suami atau hak istri agar suami mengambil apa yang bukan haknya, atau sang istri mengambil apa yang bukan haknya, maka hak ini adalah haram berdasarkan kesepakatan para ulama.

Diperbolehkan berdusta bagi suami dan istri dimaksudkan untuk menjaga kasih sayang di antara mereka. Imam Nawawi berpendapat bahwa maksud kebolehan suami berdusta kepada istri dan demikian juga istri berdusta kepada suaminya adalah dalam rangka menampakkan rasa kasih sayang.

Berbohong agar menjaga perasaan istri

Contoh sederhana, ketika suami makan masakan istri, lalu ia merasa masakannya kurang lezat, maka dalam kondisi seperti ini suami diperbolehkan untuk berdusta, agar tidak membuat sang istri bersedih atau marah karena merasa jerih payahnya tidak dihargai.

Akan tetapi, yang perlu diingat adalah jangan sampai sang suami menjadikan dusta kepada istrinya sebagai kebiasaan sehari-hari. Namun, hendaknya ia berdusta tatkala benar-benar dibutuhkan dan jelas kemaslahatannya (kebaikannya). Sebab, jika istri sampai tahu bahwa ia telah dibohongi oleh suaminya, maka ia akan tidak percaya pada perkataan-perkataan suaminya di kemudian hari. Bahkan, boleh jadi, ia akan diliputi sikap buruk sangka kepada suaminya.

Berdusta untuk selalu menjaga keharmonisan

Sebagaimana yang telah kami jelaskan di atas bahwa berdusta diperbolehkan asalkan masih dalam batas wajar. Wajar disini harus tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku. Misal, berdusta menutupi perselingkuhan, menutupi maksiat, dan lain sebagainya. Apabila yang didustakan adalah seperti yang demikian itu, maka jelas haram hukumnya.

Contoh lain mengenai dusta yang wajar. Ada seorang suami yang terkena musibah dalam pekerjaannya, tetapi ia berdusta kepada istrinya karena sang istri memiliki penyakit jantung. Dusta seperti ini boleh dilakukan, bahkan menjadi wajib. Sebab, apabila ia tidak berdusta, nyawa sang istri-lah yang jadi taruhannya. 

Contoh lain, seorang suami berdusta kepada istrinya yang buruk rupa. Meskipun kebanyakan orang normal tahu bahwa hal tersebut merupakan kekurangan istrinya, Ia-pun malah selalu memuji istrinya kalau wajahnya sangat-lah cantik, bak bidadari yang jatuh dari langit., Dan dusta semacam itu boleh-boleh saja demi menjaga perasaan sang istri.

Itulah kedustaan atau kebohongan yang diperbolehkan dalam hidup berumah tangga. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat. Wallahu A'lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel