Kisah Islami: Kesetiaan Seorang Istri

Abusyuja.com_Saat menjadi khalifah, Umar bin Khattab sering kali terjun ke masyarakat untuk mengetahui secara langsung keadaan rakyatnya. Suatu ketika, dia melintasi sebuah rumah seorang wanita yang sedang bersedih karena telah lama ditinggal suaminya yang pergi berjihad di medan perang.

http://www.abusyuja.com/2020/07/kisah-islami-kesetiaan-seorang-istri.html

Wanita itu menyenandungkan syair-syair kerinduan yang mendalam, sehingga menggugah perasaan sang khalifah:

“Malam memanjang, seiring gelap gulita di sekitarnya

Sungguh lama kurasa tanpa kekasih saling bercengkerama 

Demi Allah, jikalau bukan karena takut kepada-Nya

Pastilah kali-kali keranjang ini menjadi tergoncang

Akan tetapi, Tuhan dan rasa maluku senantiasa menjagaku

Kuhormati suamiku, agar kudanya tidak diinjak orang.”

Mendengar itu, khalifah Umar pun mencari tahu siapakah gerangan wanita tersebut. Setelah itu, Umar menemuinya dan bertanya, “Apa yang terjadi padamu?”

Wanita itu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya engkau telah memberangkatkan suamiku berbulan-bulan lamanya, sehingga aku seakan-akan tidak kuasa menahan gejolak dalam dadaku ini!”

Umar berkata, “Apakah kamu akan melakukan suatu perbuatan yang buruk?”

“Aku berlindung kepada Allah,” jawabnya.

Umar berkata, “Kuasailah gejolak dalam dirimu, sementara aku akan menarik suamimu dari medan perang.”

Umar segera mengirimkan utusan ke medan perang untuk memanggil suami wanita tersebut agar secepatnya kembali pulang. Ketika pulang kerumah, Umar pun bertanya kepada Hafshah, putrinya. Dia hendak menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan apa yang menimpa wanita tersebut.

Umar bertanya, “Wahai putriku, aku ingin bertanya kepadamu tentang samalah yang membuatku susah. Ceritakan kepadaku, berapa lama seorang istri dapat bersabar menanti kedatangan suaminya yang pergi?”

Hafshah tidak segera menjawab, ia hanya menundukkan wajah. Ia tersenyum, karena merasa malu hendak berkata sesuatu yang sangat pribadi kepada ayahnya.

Umar lalu melanjutkan, “Sesungguhnya Allah tidak malu dalam menjelaskan kebenaran.”

Mendengar pernyataan itu, Hafshah pun memberi isyarat bahwa seorang istri mampu bertahan menunggu suaminya, paling lama sekitar tiga atau empat bulan. Karena itulah, Khalifah Umar menetapkan bahwa ekspedisi perang jihad tidak boleh lebih dari empat bulan.

Hal ini dilakukan untuk melindungi kehormatan dan demi kemaslahatan para Muslimat khususnya, dan seluruh umat Islam pada umumnya.

Imam Ghazali pernah bercerita bahwa ada seorang suami yang hendak bepergian. Sebelum berangkat, ia meminta kepada istrinya agar tidak turun dari tempatnya yang berada di bagian atas bangunan. Sementara orang tuanya tinggal di bagian bawahnya. Orangtuanya sedang sakit, maka wanita itu pun mengutus pembantunya menghadap Rasulullah Saw., dengan maksud meminta izin turun dari tempatnya guna membesuk orangtuanya yang sedang sakit, walau hanya sebentar.

Rasulullah Saw. pun menjawab, “Taatilah suamimu, janganlah kamu turun.”

Wanita itu pun mengikuti perintah Rasulullah Saw. tersebut. Selang waktu yang tidak lama, orangtuanya meninggal. Wanita itu kembali mengutus pembantunya untuk menghadap Rasulullah Saw., dengan tujuan meminta izin agar diperbolehkan menyaksikan jenazah orang tuanya untuk terakhir kali.

Namun Rasulullah Saw. kembali berkata, “Taatilah suamimu!”

Kembali, wanita itu menaati perintah Rasulullah Saw., agar ia menaati perintah suaminya sebelum pergi. Maka, orangtuanya pun dikebumikan, sedangkan ia sama sekali tidak menyaksikan untuk terakhir kalinya.

Hingga kemudian Rasulullah mengutus seseorang untuk memberitakan wanita itu bahwa Allah Swt. telah mengampuni dosa-dosa orang tuanya, sebab ketaatannya kepada suami.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel