Sifat Mustahil Bagi Rasul dan Artinya

Mengetahui sifat mustahil Rasul merupakan salah satu bentuk keimanan kita kepada Rasul. Iman kepada Rasul merupakan bagian dari rukun iman dalam Islam. Iman tidak hanya ditunjukkan kepada Allah, tetapi setiap muslim diwajibkan mempercayai atau mengimani sifat wajib Rasul maupun sifat mustahilnya.

http://www.abusyuja.com/2020/07/sifat-mustahil-bagi-rasul-dan-artinya.html

Kenapa Rasul wajib diimani? Karena Rasul-lah yang menerima wahyu dari Allah. Tanpa Rasul, kita tidak akan pernah tahu apa ketentuan Allah yang ingin diberlakukan kepada umat manusia. Kita sebagai manusia biasa tugasnya adalah pasrah dan mengimani saja.

Misal, kalau kita tidak mengimani bahwa Rasul adalah amanah, maka kita sama saja menganggap bahwa Rasul pernah membawa berita bohong dari Allah. Dan itu merupakan pengandaian yang sangat berbahaya.

Maka dari itu, sangat penting mengetahui sifat-sifat Rasul, baik sifat wajibnya, mustahilnya, maupun sifat jaiznya.

Sebagai Rasul Allah atau utusan Allah, mereka memiliki tiga pembagian sifat. Yang pertama adalah sifat mustahil, yang kedua adalah sifat mustahil, dan yang ketiga adalah sifat jaiz. Berikut penjelasannya:

Berikut adalah sifat wajib dan mustahil bagi rasul.

1. Sifat wajib

Sifat wajib bagi Rasul adalah sifat yang melekat pada diri Rasul, serta  menjadi pembenaran mutlak bahwa Rasul memang memiliki sifat-sifat tersebut yang sama sekali tidak boleh diingkari apa lagi diragukan kebenarannya.

Sifat wajib Rasul sendiri ada 4, yaitu Al-Amanah, Al-Fatanah, As-Siddiq, dan At-Tablig. Berikut penjelasannya:

a. Al-Amanah

Rasul bersifat Al-Amanah artinya selalu dapat dipercaya. Tidak mungkin seorang Rasul tidak amanah, jika hal itu terjadi, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Rasul pernah melakukan dusta dalam menyampaikan wahyu Allah Swt. Dan hal semacam itu tidaklah mungkin atau muhal terjadi.

Amanah juga bisa diartikan “maksum” atau terjaga, baik secara lahir maupun batin. Seorang Rasul terjaga dari melakukan dosa kecil maupun dosa besar. Selain itu, seorang Rasul juga terjaga dari perbuatan makruh maupun khilaf aula, baik saat masih belum menjadi Rasul maupun sesudah menjadi Rasul.

b. Al-Fatanah

Rasul memiliki sifat Al-Fatanah yang maksudnya adalah Rasul memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi. Kecerdasan ini merupakan bagian dari keistimewaan seorang Rasul. Pada zaman dahulu, sifat cerdas Rasul ini digunakan untuk mendesak musuh-musuhnya serta meruntuhkan berbagai argumentasi yang bertentangan atau berlawanan dengan ajarannya.

Bayangkan, jika seorang Rasul tidak memiliki sifat fatanah (cerdas), niscaya mereka tidak akan mampu menegakkan hujjah (dasar hukum) terhadap para musuhnya. Padahal, salah satu tugas Rasul adalah membuat hujjah untuk seluruh umat manusia, demi memperbaiki umat manusia di seluruh dunia.

c. As-Siddiq

Rasul memiliki sifat As-Siddiq yang artinya adalah benar atau jujur. Jadi, segala sesuatu yang diucapkan Rasul adalah kejujuran atau kebenaran semata. Kejujuran ini mencakup segala aspek, baik kejujuran dalam pengakuannya sebagai Rasul maupun kejujuran mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan wahyu yang disampaikan dari Allah Swt.

Jadi, mereka mustahil jika mendustakan Allah Swt. Dan andaikata mereka tidak jujur, pasti mukjizat dari Allah membenarkan bahwa kejujuran atas pengakuannya sebagai Rasul merupakan kebohongan pula. Namun tetap saja, pengandaian seperti ini sifatnya mustahil (tidak akan pernah ada).

d. At-Tablig

Rasul memiliki sifat At-Tablig yang artinya adalah selalu menyampaikan wahyu atau risalah dari Allah Swt. Sebagai utusan Allah Swt., rasul diperintahkan untuk menyampaikan wahyu atau risalah untuk disampaikan kepada makhluk.

Andaikata para Rasul korupsi (menyimpan) sedikit salah satu wahyu Allah, niscaya para Rasul juga memerintahkan kita untuk berbuat khitman (menyimpan). Dan pengandaian seperti itu lagi-lagi merupakan hal yang mustahil.

Sebab, menyimpan suatu ilmu bukanlah tindakan yang benar, dan bagi siapa saja yang menyimpan ilmunya akan dilaknat oleh Allah Swt. Begitu juga dengan Rasul. Apabila ia menerima wahyu dari Allah, berarti ia telah mendapatkan ilmu baru yang wajib untuk disampaikan kepada umat manusia.

2. Sifat Mustahil

Sifat mustahil bagi Rasul adalah sifat-sifat yang tidak mungkin melekat pada diri Rasul. Dan wajib bagi kita mengimani bahwa Rasul tidak mungkin memiliki sifat-sifat mustahilnya. Sifat-sifat ini merupakan lawanan atau lawan kata dari sifat wajib Rasul. Sifat mustahil Rasul yaitu, Al-Baladah, Al-Khianah, Al-Kizzib, dan Al-Kitmaan.

a. Al-Baladah

Sifat mustahil Rasul yang pertama adalah Al-Baladah atau bodoh (tidak cerdas). Tidak mungkin seorang Rasul memiliki kapasitas pemikiran yang rendah (bodoh). Sebab, jika benar seorang Rasul bodoh, niscaya tidak akan mampu baginya menampung firman-firman Allah, serta tak mampu pula baginya membuat sebuah hujjah atau pijakan hukum dalam mengatur umat manusia.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 199 bahwa kita diperintahkan untuk tidak mempedulikan orang-orang yang bodoh. Berarti, jika Rasul bodoh, maka Allah sendirilah yang memerintahkan kita untuk mengabaikannya. Dan pengandaian semacam itu sangatlah mustahil.

b. Al-Khianah

Sifat mustahil Rasul yang kedua adalah Al-Khianah yang artinya khianat. Sifat ini mustahil dimiliki oleh Rasul karena ia pasti akan selalu menyampaikan amanat yang diberikan Allah kepada para makhluknya. 

Namanya saja “Rasul”, seorang utusan, sudah pasti Allah-lah yang memilih sekaligus yang mengutusnya. Jadi, apabila seorang Rasul berkhianat, maka hal tersebut merupakan pengandaian yang salah.

c. Al-Kizzib

Sifat mustahil Rasul yang ketiga adalah Al-Kizzib yang  artinya dusta (bohong). Tidak mungkin seorang Rasul berbohong, entah sekecil apapun kebohongan itu. Seperti yang telah kami jelaskan di atas bahwa Rasul memiliki sifat “maksum” yang artinya adalah terjaga. Rasul diciptakan dengan keadaan terjaga dari perbuatan dosa besar maupun kecil 

d. Al-Kitman

Sifat mustahil Rasul yang terakhir adalah Al-Kitman yang artinya adalah menyembunyikan kebenaran. Rasul mustahil memiliki sifat ini apapun yang keluar dari mulut Rasul adalah kebenaran semata. Sebagaimana potongan firman Allah dalam QS. An-Najm yang berbunyi, “Ucapannya tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Dan firman-Nya dalam surat yang sama, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Dari firman Allah di atas sudah jelas bahwa Rasul hanya mengeluarkan kebenaran, bukan mengeluarkan kebohongan atas kemauan hawa nafsunya.

3. Sifat Jaiz

Sifat Jaiz Rasul hanya satu, yaitu Al-Ardhul yang artinya adalah Rasul memiliki sifat sebagaimana normalnya manusia. Rasul bisa saja mengantuk, tidur, lapar, haus, dan sakit. Rasul juga menikah, memiliki keluarga, dan buang hajat layaknya manusia.

Itulah pembahasan mengenai Sifat Mustahil Bagi Rasul dan Artinya. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat. Wallahu A'lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel