Inilah 7 Asas Hukum Perikatan dalam Islam

https://www.abusyuja.com/2020/08/7-asas-hukum-perikatan-islam.html
Asas dalam bahasa Arab berarti dasar basis atau pondasi. Sedangkan secara terminologi, asas merupakan dasar atau sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat. Ada juga yang memberikan istilah bahwa asas artinya adalah prinsip, yaitu dasar atau kebenaran yang menjadi pokok berpikir, bertindak dan sebagainya.

Dalam kaitanya dengan hukum perikatan Islam, terdapat 7 asas yang perlu Anda ketahui, yaitu asas kebebasan, asas persamaan atau kesetaraan, asas keadilan, asas kerelaan, asas kejujuran dan kebenaran dan asas tertulis. Dan satu lagi asas yang paling utama yang didasarkan pada setiap perbuatan manusia, yaitu asas Ilahi atau asas tauhid.

1. Asas kebebasan

Islam memberikan kebebasan kepada para pihak untuk melakukan suatu perikatan. Bentuk dan isi perikatan tersebut ditentukan oleh para pihak. Apabila telah disepakati bentuk dan isinya, maka perikatan itu mengikat para pihak yang menyepakatinya dan harus dilaksanakan sesuai hak dan kewajibannya. Namun, kebebasan ini tidaklah bersifat absolut, sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka perikatan tersebut boleh dilaksanakan.

2. Asas persamaan atau kesetaraan

Setiap perbuatan muamalah merupakan salah satu jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Seringkali terjadi, bahwa seseorang memiliki kelebihan dari yang lainnya. Oleh karena itu, setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan suatu perikatan. Dalam melakukan perikatan ini, para pihak menentukan hak dan kewajiban masing-masing berdasarkan pada asas persamaan atau kesetaraan, dan tidak boleh ada suatu kezaliman yang dilakukan dalam perkataan tersebut.

3. Asas keadilan

Istilah keadilan tidaklah dapat disamakan dengan suatu persamaan. Keadilan adalah keseimbangan antara berbagai potensi individu baik moral ataupun material, antara individu dan masyarakat dan antara masyarakat satu dengan lainnya yang berlandaskan pada syariah Islam. Dalam asas ini, para pihak yang melakukan perikatan dituntut untuk berlaku benar dalam pengungkapan kehendak dan keadaan, memenuhi perjanjian yang telah mereka buat dan memenuhi semua kewajibannya.

4. Asas kerelaan

Dalam melakukan suatu perdagangan hendaklah atas dasar suka sama suka atau sukarela. Tidaklah dibenarkan bahwa suatu perbuatan muamalah, perdagangan misalnya, dilakukan dengan pemaksaan ataupun penipuan. Jika hal ini terjadi, maka dapat membatalkan perbuatan tersebut. Unsur sukarela ini menunjukkan keikhlasan dan itikad baik dari pihak-pihak yang merupakan salah satu syarat mutlak sahnya akad jual beli itu sendiri.

5. Asas kejujuran dan kebenaran

Kejujuran merupakan hal yang harus dilakukan oleh setiap manusia dalam segala bidang kehidupan, termasuk dalam pelaksanaan muamalah. Jika kejujuran ini tidak diterapkan dalam perikatan, maka akan merusak legalitas perikatan itu sendiri. Karena itu, jika terdapat ketidakjujuran dalam berikatan, maka akan dapat menimbulkan perselisihan di antara para pihak yang terlibat.

Perbuatan muamalah dapat dikatakan benar apabila memiliki manfaat bagi para pihak yang melakukan perikatan dan juga bagi masyarakat dan lingkungannya. Sedangkan perbuatan muamalah yang terdapat unsur madharat (marabahaya) adalah dilarang.

6. Asas tertulis

Dalam Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 282-283 disebutkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala menganjurkan kepada setiap manusia hendaknya suatu perikatan dilakukan secara tertulis, disaksikan (dihadiri) oleh saksi saksi dan diberikan tanggung jawab individu bagi yang melakukan perikatan dan yang menjadi saksi. Selain itu, dianjurkan pula bahwa apabila suatu perikatan dilaksanakan tidak secara tunai, maka dapat dipegang suatu benda sebagai jaminannya. Adanya tulisan, saksi dan jaminan ini menjadi alat bukti atas terjadinya perikatan tersebut.

7. Asas tauhid

Kegiatan muamalah, termasuk perbuatan perikatan tidak akan pernah lepas dari nilai-nilai ketauhidan. Dengan demikian, manusia memiliki tanggung jawab akan hal ini, tanggung jawab kepada masyarakat, tanggung jawab kepada pihak kedua, tanggung jawab kepada diri sendiri dan tanggung jawab kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Akibatnya, manusia tidak akan berbuat sekehendak hatinya karena segala perbuatannya akan mendapatkan balasan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel