Siapa yang Mendapatkan Rahmat Allah?

Allah menjadikan Rahmat 100 bagian, lantas Dia menahan disisi-Nya 99 bagian dan menurunkan satu bagian ke bumi. Dengan 1 bagian itu saja, makhluk akan berkasih-sayang satu dengan yang lainnya, sehingga kuda mengangkat kakinya karena khawatir menginjak anaknya. 

https://www.abusyuja.com/2020/08/siapa-yang-mendapatkan-rahmat-allah.html

Inilah salah satu potongan hadits yang masyhur mengenai rahmat Allah yang maha dahsyat dan sangat luar biasa. Di dalam redaksi lain disebutkan bahwa sesungguhnya Allah Ta'ala mempunyai 100 rahmat. Allah turunkan 1 rahmat di antaranya ke bumi untuk semua penghuni dunia, maka rahmat (yang satu) itu membuat lapang (bahagia) kepada mereka sampai ajal mereka. Nanti pada hari kiamat Allah mencabut rahmat  yang 1 itu lalu menggabungkannya dengan yang 99, maka lengkaplah 100 rahmat yang kemudian diberikan kepada kekasih-kekasih Allah dan orang-orang yang taat kepada-Nya.

Lalu pertanyaannya, siapakah yang berhak mendapatkan rahmat Allah itu? Nabi menjelaskan bahwa rahmat itu akan  diberikan kepada orang-orang yang beriman dengan maksud agar mereka memuji dan bersyukur kepada Allah atas rahmat yang dikaruniakan kepada mereka. Lalu rahmat Allah  juga akan diberikan kepada orang-orang yang selalu mengerjakan amal saleh atau amal kebaikan dengan rasa ikhlas dan sungguh-sungguh, serta orang-orang yang senantiasa berdoa dan berharap untuk bertemu dengan Tuhannya kelak.

Allah berfirman, 

“Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan." (QS. Al-A'raf: 56)

Dalam ayat lain, Allah berfirman,

“Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan kebajikan.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Jadi, rahmat Allah  itu semata-mata hanya diberikan kepada orang yang beriman saja. Oleh karena itu, wajib bagi kita memanjatkan puji syukur kepada Allah atas iman yang dikaruniakan kepada kita dan namanya tercatat dalam kelompok orang-orang yang beriman.

Di samping itu, kita sebagai muslim yang taat harus senantiasa memohon kepada Allah agar dijauhkan dari perbuatan-perbuatan dosa.

Lalu, bagaimana cara berdoa agar Allah menurunkan Rahmat kepada kita?

Berikut doa Yahya bin Muadz ar-Razi di mana di dalam doanya ia berkata, “ Wahai Tuhanku, Engkau telah menurunkan 1 rahmat bagi kami dan dengan rahmatnya yang satu itu Engkau telah memuliakan kami dengan rahmat beragama Islam. Bila Engkau menurunkan seratus rahmat, maka bagaimana kami akan mengharapkan ampunan-Mu.”

Di dalam riwayat lain beliau juga berdoa,” Wahai Tuhanku, apabila balasan-Mu diberikan kepada orang-orang yang taat dan rahmat-Mu diberikan kepada orang-orang yang taat, namun saya tetap mohon balasan-Mu, dan saya termasuk orang-orang yang berdosa, maka saya mohon rahmat-Mu.”

Di dalam riwayat lain beliau juga berdoa seperti berikut,” Wahai Tuhanku, Engkau menciptakan surga dan dijadikannya sebagai tempat berpesta ria bagi kekasih-kekasih-Mu, dan orang-orang kafir tidak ada harapan untuk masuk ke dalamnya. Engkau juga menciptakan malaikat dan mereka tidak ada keinginan untuk masuk ke dalamnya dan Engkau juga tidak begitu peduli dengan mereka. Jika Engkau tidak memberikan surga itu untuk kami, maka akan diberikan kepada siapa surga itu?” 

Sai’id Al-Khudri ra. menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, 

Ada seseorang masuk surga, padahal Ia sama sekali tidak mengerjakan kebaikan; hanya saja sewaktu ia hendak mati, ia berkata kepada keluarganya, “ Apabila saya mati, maka bakarlah saya dengan api, kemudian taruh abunya separuh di daratan dan separuhnya lagi di lautan.” Ketika ia mati, keluarganya mengerjakan apa yang dipesankannya itu. Allah lantas memerintahkan kepada daratan dan lautan untuk mengumpulkan abunya itu, lalu berfirman, “ apa yang menyebabkan kamu berbuat seperti itu?” kemudian orang itu menjawab, “ Wahai Tuhan, Karena saya takut kepadamu”. Kemudian Allah mengampuni dosa-dosanya karena takutnya kepada Allah itu.”

Rasa takut itu lebih baik bagi seseorang ketika dalam keadaan sehat, sedangkan pengharapan itu lebih baik bagi seseorang dalam keadaan sakit dan lemah. Maksudnya, rasa takut itu lebih baik bagi mereka yang sehat, sehingga ia dapat bersungguh-sungguh dalam mengerjakan ibadah dan menjauhi segala dosa. Dan bila ia sakit dan sangat lemah untuk berbuat baik, maka lebih baik baginya untuk berharap kepada Allah. Sebab, sabar ketika sakit dapat merontokkan dosa-dosa kita.

Dalam hadis di atas, orang biasa pun juga akan mendapatkan rahmat apabila di dalam hatinya ia benar-benar merasa takut kepada Allah. Alkisah, ada sebuah hadis yang menceritakan tentang sosok penjahat yang telah membunuh 99 orang, kemudian ia mendatangi orang pintar kemudian bertanya, “Wahai Fulan, aku telah membunuh 99 orang, apakah Allah akan menerima tobatku?” Kemudian Fulan itu menjawab, “Sungguh hina perilakumu itu, Allah tidak mungkin mengampuni dosamu.” Seketika penjahat itu membunuh Fulan tanpa berfikir panjang. Jadi total yang telah ia bunuh adalah 100 orang.

Ia berjalan lagi menemui orang pintar berikutnya, “Wahai Fulan, aku telah membunuh 100 orang, apakah Allah akan menerima tobatku?” Fulan menjawab, “Sungguh kejahatanmu telah melampaui batas, tetapi aku tidak bisa menjawab. Ada dua desa di ujung sana, desa itu bernama Bushra dan Kafrah. Bushra adalah desa dengan penduduk yang senantiasa mengerjakan amalan-amalan ahli surga, di mana tidak ada orang lain yang menetap di sana, sedangkan penduduk desa Kafrah adalah tempat orang-orang yang mengerjakan amalan-amalan ahli neraka. Apabila kamu ingin pergi ke Bushra dengan niat mengerjakan amalan-amalan mereka, maka janganlah ragu tentang tobat mu itu.” 

Kemudian ia berangkat menuju desa Bushra. Sewaktu berada diantara dua desa itu, ia meninggal dunia. Dengan kematian orang itu, maka terjadilah silang pendapat antara malaikat penyiksa dan malaikat rahmat. Kemudian malaikat itu bertanya kepada Tuhan lantas mereka mendapatkan jawaban, “ Ukurlah jarak antara kedua desa itu, ke desa mana ia lebih dekat, maka di situlah ia termasuk penghuninya. Kemudian para malaikat itu mengukurnya dan mereka mendapatkan bahwa orang itu lebih dekat ke Bushra kira-kira seujung jari, maka ia dicatat sebagai penduduk Bushra (yang berarti tobatnya diterima). (Al-Hadis riwayat Amr bin Ash)

Allah berfirman,

“Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya kemudian ia mohon ampunan kepada Allah niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 110)

Allah juga berfirman,

Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya niscaya kami hapus kesalahan-kesalahan kalian dan akan kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).” (QS. An-Nisa’: 31)

Kesimpulan:

Wahai saudaraku yang dimuliakan oleh Allah. Rahmat Allah sangatlah luas. Tidak ada meteran atau tolak ukur yang dapat mengukur kebesaran rahmat Allah. Tetapi rahmat memiliki tolak ukur bagi manusia itu sendiri, yaitu untuk orang-orang yang selalu menanamkan iman dalam hati. Iman berarti mempercayai ke-Esa-an Allah dalam semua aspek, termasuk mempercayai bahwa rahmat Allah itu ada, memercayai bahwa orang yang selalu melakukan amal kebaikan akan diberikan rahmat oleh-Nya, orang yang dengan ikhlas bertobat akan diberi rahmat oleh-Nya.

Apabila kita merasa bahwa amal ibadah saja sudah cukup tanpa perlu rahmat apapun, itu merupakan sebuah pengandaian yang keliru. Sebab,Nabi pernah bersabda, “Seseorang diantara kalian tidak bisa selamat karena amalnya.” Para sahabat bertanya, “Tidak pula engkau wahai Rasulullah? “Beliau menjawab, “Dan tidak pula aku, melainkan bila Allah melingkupi aku dengan rahmat-Nya.” Wallahu A'lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel