Surat Al-Baqarah Ayat 183: Arab, Latin, Arti dan Tafsirnya

https://www.abusyuja.com/2020/08/surat-al-baqarah-ayat-183-arab-latin-tafsir.html
Al-Baqarah berarti “sapi betina”. Adapun alasan mengapa dinamakan Al-Baqarah adalah surat ini memuat cerita tentang penyembahan sapi betina oleh Bani Israil. Di dalamnya juga dijelaskan karakter orang-orang Yahudi pada masanya.

Surat ini termasuk golongan surat Madaniyyah. Ia terdiri dari 286 ayat yang sebagian besar diturunkan ketika Rasulullah Saw. sedang menunaikan ibadah haji wadak.

Surat ini juga disebut sebagai Fushatul Qur’an, karena di dalamnya memuat beberapa hukum yang tidak dimuat dalam surat lain. Ia juga dinamai dengan surat Alif Lam Mim, karena surat ini juga diawali dengan lafadz tersebut.

Khalid bin Ma’dan meriwayatkan bahwa surat Al-Baqarah mengandung seribu khabar, seribu perintah, dan seribu larangan. Beberapa ahli menghitung bahwa surat Al-Baqarah terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf.

Surat Al-Baqarah Ayat 183: Arab, Latin, Arti dan Tafsirnya

Berikut Surat Al-Baqarah Ayat 183 Arab:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Berikut Surat Al-Baqarah Ayat 183 Latin:

Latin: Yaa Ayyuhalladziina aa-manuu kutiba ‘alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba ‘alal-ladziina minqablikum la’allakum tattaquun.

Berikut Arti Surat Al-Baqarah Ayat 183:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Berikut Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 183:

Melalui Surat Al-Baqarah Ayat 183, Allah Swt. ber-khitab kepada orang-orang mukmin dari kalangan umat dan memerintahkan kepada mereka berpuasa, yaitu menahan diri dari makan dan minum serta bersenggama (bersetubuh) dengan niat yang ikhlas karena Allah Swt. Karena di dalam berpuasa terkandung hikmah membersihkan jiwa, menyucikannya serta membebaskannya dari endapan-endapan yang buruk (bagi kesehatan tubuh) dan akhlak-akhlak yang rendah.

Sebagaimana puasa yang diwajibkan atas mereka, ternyata Allah pun telah mewajibkan puasa kepada umat-umat terdahulu, yaitu umat-umat sebelum mereka. Dengan demikian, berarti mereka mempunyai teladan dalam berpuasa, dan hal ini mendorong semangat kepada mereka dalam menunaikan kewajiban ini, bukan malah merasa diberatkan. Dan hal ini dapat dijadikan motivasi dalam menunaikan kewajiban ini, yaitu dengan penunaian yang lebih sempurna dari apa yang telah ditunaikan oleh orang-orang sebelum mereka. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

لِكُلٍّ جَعَلْنا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهاجاً وَلَوْ شاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً واحِدَةً وَلكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْراتِ

“Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja); tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan (Al-Maidah: 48), hingga akhir ayat.”

Sebagaimana dikatakan di atas bahwa puasa memiliki hikmah menyucikan tubuh dan mempersempit jalan-jalan setan. Seperti yang disebutkan di dalam hadis Sahihain, yaitu:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Hai kaum muda, barangsiapa di antara kalian mampu memberi nafkah, maka menikahlah; dan barang siapa yang tidak mampu (memberi nafkah), hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa merupakan peredam baginya.” (HR. Bukhari Muslim)

Jadi, puasa merupakan peredam bagi hasrat dan nafsu setan. Dengan berpuasa, hati seseorang akan jauh terlindungi dari godaan apapun dan tubuhnya akan terjaga dari penyakit lahir maupun batin.

Kemudian Allah Swt. juga menjelaskan mengenai batasan hari-hari saat puasa, misal penjelasan puasa wajib yang dilakukan pada bulan ramadhan, puasa sunnah senin kami yang dilakukan pada hari senin dan hari kamis, puasa ayyamul bidh yang dilakukan 3 hari pada setiap bulan, dan lain sebagainya.

Ada riwayat yang menjelaskan bahwa ibadah puasa oleh umat-umat Islam dulu adalah dengan cara berpuasa 3 hari pada setiap bulannya menurut riwayat Mu'az, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, puasa yang demikian ini sudah berlangsung sejak zaman Nabi Nuh as. sampai Allah me-Nasakh-nya dengan puasa bulan ramadhan.

Demikian tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 183. Sedangkan pada Surat Al-Baqarah Ayat 184, pembahasannya akan beralih pada ketidakmampuan seseorang ketika sedang berpuasa, yang mana, ia diwajibkan membayar fidyah atau memberi makan orang miskin sebagai ketentuan syariat yang telah berlaku.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel