Surat An-Nisa’: Pokok Kandungan, Keutamaan dan Khasiat

Abusyuja.com_An-Nisa’ artinya adalah “wanita”. Surat ini terdiri dari 176 ayat dan termasuk dalam golongan surat Madaniyyah. Surat An-Nisa’ termasuk surat terpanjang setelah surat Al-Baqarah. Adapun dinamakan surat An-Nisa’ karena surat ini kebanyakan membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan wanita, dibandingkan dengan surat-surat lainnya. Adapun surat lain yang juga berbicara mengenai wanita adalah surat Ath-Thalaq. Oleh karena itu surat Ath-Thalaq disebut juga dengan surat An-Nisa’ sughra (surat An-Nisa’ kecil).

Pokok kandungan surat An-Nisa’

Diantara pokok kandungan yang terdapat pada surat An-Nisa’ adalah syirik akibat kekafiran pada hari kiamat, hukum poligami, mahar, memakan harta anak yatim, dasar hukum warisan (faraidh), perbuatan keji dan hukum lainnya, wanita yang haram dinikahi, larangan memakan harta secara batil, hukum syiaqaq dan nusyuz, arti pentingnya kesucian lahir dan batin dalam shalat, hukum membunuh orang Islam, dan masalah kalabah (hukum masyarakat).

https://www.abusyuja.com/2020/08/surat-nisa-pokok-kandungan-keutamaan.html

Di dalam surat An-Nisa’ juga mengisahkan tentang Nabi Musa dan para pengikutnya, asal mula manusia yang berasal dari satu, kewajiban menjauhi adat (kebiasaan) jahiliah dalam memperlakukan wanita, etika bergaul dengan istri, hak seseorang sesuai dengan kewajibannya, dasar-dasar pemerintahan, sikap-sikap orang munafik dalam perang, jihad fi sabilillah, dan lainnya.

Fadhilah dan Khasiat surat An-Nisa’

Surat An-Nisa’ ternyata juga memiliki berbagai keutamaan dan khasiat, berikut penjelasannya:
  • Surat An-Nisa’ adalah termasuk dalam tujuh surat pertama yang penghafalnya adalah orang-orang alim dan bertakwa sebagaimana yang telah berlaku di surat Al-Baqarah.
  • Surat An-Nisa’ termasuk dalam As-Sab’uth-Thiwal sebagai pengganti taurat sebagaimana yang telah berlaku juga di surat Al-Baqarah.
  • Sura An-Nisa’ termasuk Al-Matsani Ath-Thiwal untuk Rasulullah, sebagai penyeimbang Lauh Nabi Musa.
  • Surat An-Nisa’ ayat 1 adalah salah satu ayat yang dibaca dalam khutbah hajat, selain Ali ‘Imran ayat 102 dan surat Al-Ahzab ayat 70-71.
  • Surat An-Nisa’ bisa menjadi wasilah doa keamanan dari alam kubur. Amirul Mukminin telah berkata, “Barangsiapa yang membaca surat An-Nisa’ di setiap hari jumat, maka ia aman dari kubur.” (Tafsir Al-Asyasyi, Juz 1: 241)
  • Surat An-Nisa’ bisa dijadikan sebagai doa agar seseorang dapat terhindar dari segala kejahatan dan bentuk kezaliman. Dengan membacanya secara rutin, konsisten dan istiqomah, seseorang dapat terhindar dari segala kejahatan dan perbuatan zalim. Adapun caranya yaitu dengan membaca surat An-Nisa’ayat 75.
وَما لَكُمْ لَا تُقاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجالِ وَالنِّساءِ وَالْوِلْدانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنا أَخْرِجْنا مِنْ هذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُها وَاجْعَلْ لَنا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيراً

“Mengapa kamu tidak mau berperang dijalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, ‘Ya Tuhan kami berikanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya, dan Berilah kami perlindungan dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari siang Kau.” (QS. An-Nisa’: 75)

Pembahasan khusus surat An-Nisa’ ayat 29:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا 
تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kalian. Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian.” (QS. An-Nisa’: 29)

Allah Swt. melarang makhluknya yang beriman untuk memakan harta dengan cara yang batil, yaitu melalui usaha yang tidak diakui oleh syariat, seperti dengan cara riba dan judi serta cara-cara lainnya yang bertentangan dengan syariat Islam, seperti unsur penipuan, pengelabuan, dan lain sejenisnya.

Hal ini sangat penting kami sampaikan. Sebab, semakin maju zaman ini maka semakin banyak pula jenis-jenis pekerjaan baru yang tidak pernah disebutkan sebelumnya dalam Al-Qur’an. Tetapi dalam surat An-Nisa ayat 29 ini telah memberikan kita sebuah batasan dalam menilai apakah pekerjaan itu bertentangan dengan syariat Islam. Usaha apapun diperbolehkan asalkan tidak bertentangan dengan syariat, seperti tidak menggunakan unsur riba, judi, penipuan, dan lain sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel