Bersyukur Adalah Kunci Agar Kita Selalu Merasa Cukup

https://www.abusyuja.com/2020/09/bersyukur-adalah-kunci-agar-kita-selalu-cukup.html
Tidak perlu menatap ke atas apabila kita ingin menggapai dunia. Sebab, itu merupakan hal yang sia-sia. Di atas langit masih ada langit. Begitu juga dengan kehidupan, di atas kita masih ada orang yang lebih unggul dari kita. Dalam permasalahan dunia, memandang ke arah atas tidak membuat kita merasa cukup, justru malah sebaliknya, ia dapat membuat kita menjadi manusia yang merasa kurang dan kurang.

Ketika kita memiliki motor, kita akan merasa kurang apabila memandang orang lain yang memiliki mobil. Apabila kita memiliki mobil, kita akan merasa kurang apabila melihat orang lain memiliki mobil seharga 10 kali lipat dari mobil kita. Dan begitu seterusnya, hingga kita dipaksa untuk lupa akan bersyukur, bahwa nikmat yang sebenarnya ada pada kita, tetapi malah tidak pernah disadari keberadaannya.

Sekali lagi, memandang ke atas tidak akan pernah membuat kita merasa cukup, justru malah membuat kita merasa selalu kurang. Maka dari itu, dalam permasalahan duniawi, lihatlah ke bawah, lihatlah orang-orang yang berada di bawah kita, agar hati kita selalu ingat atas nikmat yang diberikan oleh Allah, agar kita selalu bersyukur bahwa kenikmatan yang kita rasakan sekarang ini belum tentu pernah dirasakan oleh orang lain.

Rumah yang kita miliki sekarang, serta kenikmatan-kenikmatan di dalamnya seperti kulkas, TV, AC, motor bahkan atap rumah, haruslah kita renungkan bahwa tidak semua orang pernah merasakannya. Detik ini, pastilah ada orang yang masih belum memiliki atap rumah, merasakan segarnya AC dan kulkas, apalagi menikmati acara-acara visual di TV.

Masih banyak anak-anak di luar sana yang orang tuanya belum mampu untuk membelikan smartphone, seperti gadget-gadget yang kita berikan kepada anak-anak kita. Kurang nikmat apa coba?

Kenapa harus melirik kemewahan Rafi Ahmad yang diberikan kepada Rafatar? Bukankan itu bukan porsi kehidupan kita?

Bahkan, sempat waktu itu ada tagar viral yang menyerukan, "impianku ingin jadi Rafatar." :)

Apakah ukuran sukses dapat ditentukan apabila kita menjadi anak Rafi Ahmad? Kenapa malah tidak memilih "impianku ingin jadi anak shaleh, hafal Al-Qur'an, hafal Hadis, hafal kitab-kitab Ulama", yang sudah jelas-jelas baiknya?

Membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan kita tentu saja akan melahirkan ketidakseimbangan. Sebab, setiap kenikmatan tidak bisa dikur dengan duniawi. Sekali lagi, "harta dan tahta tidak bisa mengukur sebuah kenikmatan."

Contoh, seorang artis (publik figure) memiliki kemewahan harta dan jabatan, tetapi setiap bulan ia harus membayar berpuluh-puluh juta untuk pajak rumah, mobil mewah, asuransi dan hutang-hutangnya.

Contoh dua, keluarga kecil yang tidak memiliki kemewahan (sederhana), tinggal di kontrakan sederhana, tetapi di setiap malamnya dapat makan bersama-sama dengan anak dan istri sembari bercanda bahagia tanpa harus memikirkan pajak, hutang dan lain sebagainya.

Dari contoh satu dan dua, manakah yang paling banyak diberikan nikmat?

Jawabannya tergantung kepada persepsi kita sendiri. Kenikmatan dapat diukur dari seberapa banyak kita mensyukuri nikmat itu sendiri. Meskipun keluarga kita kecil nan sederhana, kenikmatan akan tetap terasa apabila kita tetap mensyukurinya.

Tetapi sebaliknya, kemewahan harta, kemewahan tahta, apabila semua itu tidak disyukuri, maka jangan harap hati akan tenang dan selalu merasa cukup. Pastilah hatinya akan gelisah, memikirkan ini dan itu, dan selalu merasa bahwa kemewahan yang ia dapat ternyata "masih" kurang.

Dengan bersyukur, Allah akan membalas kenikmatannya berkali-kali lipat. Dengan bersyukur, hati kita akan selalu merasa cukup. Demikianlah pembahasan kali ini. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat. Wallahu A'lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel