6 Perilaku yang Dapat Merusak Hati Manusia

https://www.abusyuja.com/2020/10/6-perilaku-yang-dapat-merusak-hati-manusia.html
Syekh Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, kerusakan hati manusia itu disebabkan oleh enam faktor, yaitu:

1. Sengaja berbuat dosa dengan harapan dosanya nanti diampuni.

Sengaja berbuat dosa maksudnya adalah seseorang yang berpikir, “Tidak papa hari ini aku berbuat dosa, toh, nantinya aku bisa bertobat besok”. Jadi, ia berpikir bahwa dosa yang ia lakukan ini merupakan tindakan yang kosong. Meskipun dilakukan dengan sengaja, ia tidak akan terbebani karena di dalam benaknya ada niat untuk menghapus dosanya dengan cara bertobat di lain waktu.

Tentu hal ini sangatlah berbahaya. Ya, kalau memang ia sempat untuk bertobat, tetapi bagaimana jika tidak? Saat aktivitas maksiatnya diterapkan dalam sistem interval (dilakukan berulang-ulang dan rutin), tentu ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yaitu ia sempat untuk bertobat, atau terlanjur mati dan belum sempat untuk tobat.

2. Memiliki ilmu, tetapi tidak diamalkannya.

Orang yang paling sombong adalah orang yang memiliki ilmu, tetapi tidak diamalkan. Islam tentu dengan tegas mewajibkan umat Muslim yang berilmu, untuk mengamalkan dan menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan umat manusia.

3. Apabila beramal tidak ikhlas.

KH. Anwar Zahir pernah berkata, “Saat seseorang bersedekah apapun kepada orang lain, tetapi sampai bertahun-tahun hatinya tidak ikhlas, maka selama bertahun-tahun itu pula pahala atau proposal sedekahnya tidak sampai ke Allah Swt.”

Begitu juga sebaliknya, saat ia beramal atau bersedekah kepada orang lain, lalu setelah itu ia berusaha untuk melupakan amalan tersebut dan tidak mengungkit-ungkit lagi, maka seketika itu proposal pahalanya akan sampai kepada Allah Swt.

Adapun ciri-ciri beramal ikhlas adalah:

  1. Beramal tanpa berharap imbalan;
  2. Beramal tanpa berharap sanjungan;
  3. Beramal dan langsung berusaha untuk melupakannya (tidak mengungkitnya lagi);
  4. Beramal tanpa pamrih;
  5. Beramal tanpa memberitahu kepada siapapun.

4. Menikmati rezeki dari Allah, tetapi tidak pernah bersyukur.

Bersyukur merupakan tanda terima kasih kita kepada Allah yang telah memberikan segala nikmat kepada kita. Tanpa kita sadari, setiap detik udara yang kita hirup, itu merupakan salah satu bentuk rezeki.

Barangsiapa yang bersyukur atas rezeki yang diberikan oleh Allah, niscaya Allah akan menambah kenikmatan tersebut berkali-kali lipat.

Dan barangsiapa yang lupa bersyukur, niscaya Allah akan meredupkan hatinya, ia akan diselimuti rasa selalu kurang, hatinya akan keras dan suka mengeluh.

5. Tidak ridha dengan pemberian Allah.

“Kenapa Allah memberinya kekayaan, sedangkan aku tidak?” Itulah salah satu contoh orang yang tidak terima atau ridho atas apa yang diberikan oleh Allah. Miskin atau kaya seseorang, sehat atau sakitnya seseorang, pastilah Allah menyimpan hikmah di dalamnya.

Setiap ketentuan Allah pastilah ada hikmahnya. Mungkin saja, si miskin masih diberi “jatah” miskin oleh Allah, karena Allah lebih tahu, kalau Allah memberinya kekayaan, ia akan melupakan agamanya, ia akan bermain dengan wanita sesukanya. Itulah salah satu contoh kecil hikmah dibalik kemiskinan.

6. Sering mengubur orang mati, tetapi tidak mau mengambil pelajaran dari kematian tersebut.

Hikmah dibalik kematian adalah “Semua orang pasti ada waktunya untuk kembali”. Salah satu faktor yang dapat merusak hati manusia adalah ia sering ikut menguburkan orang mati, tetapi tidak mau mengambil hikmah dari kematian tersebut. Begitu juga dengan orang yang sering berziarah ke makam, tetapi ia tidak mau mengambil hikmah darinya.

Itulah 6 faktor yang dapat merusak hati manusia. Nasihat-nasihat ini kami kutip dari kitab Nasoihul Ibad karya Mbah Imam Nawawi. Semoga beliau ditempatkan pada tempat yang sangat mulia di sisi Allah. Amin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel