Mengenal Aliran Mu'tazilah Beserta 5 Ajaran Pokoknya

https://www.abusyuja.com/2020/12/aliran-muktazilah-beserta-pokok-ajaranna.html
Golongan Mu’tazilah adalah salah satu paham atau aliran yang muncul di Basra, Irak, pada abad ke 2 Hijriyah. Didirikan dan dicetuskan oleh Wasil bin Atha’ ketika dia memutuskan untuk berpisah dari gurunya, Imam Hasan al-Bashri karena memiliki pandangan yang berbeda.

Aliran ini memiliki paham bahwa orang Islam yang mengejarkan dosa-dosa besar atau meninggalkan kewajiban-kewajiban, yang sampai kematiannya belum sempat untuk bertobat, maka orang itu dihukumi keluar dari Islam, tetapi tidak menjadi kafir, namun hanya berstatus fasik saja. Dan menurut mereka lagi, orang fasik adalah orang-orang yang abadi di neraka.

Berikut adalah pokok-pokok ajaran Mu’tazilah yang sangat kontroversial:

1. Tentang Tauhid

Dalam tauhid atau mengakui ke-Esa-an Allah, orang-orang Mu’tazilah memiliki 3 pandangan:

Pertama, mereka mengingkari sifat-sifat Allah Swt., menurut mereka, sifat yang melekat pada Allah adalah zat-Nya sendiri. Kedua, Al-Qur'an menurut mereka adalah makhluk (sesuatu yang baru). Ketiga, mereka (Mu’tazilah) berpendapat bahwa Allah di akhirat kelak tidak dapat dilihat oleh Panca Indra manusia, karena Allah tidak akan bisa dijangkau oleh Panca Indra.

2. Tentang Keadilan

Setiap orang Islam tentunya diwajibkan percaya bahwa Allah memiliki sifat “Adil”. Namun, aliran Mu’tazilah malah memperdalam arti keadilan serta menunjukkan batasan-batasannya, sehingga menimbulkan beberapa masalah.

Dasar keadilan yang diyakini oleh kaum Mu’tazilah adalah meletakkan pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya. Berikut pernyataan kaum Mu’tazilah dalam menafsirkan keadilan,

Tuhan tidak menghendaki keburukan, tidak menciptakan perbuatan manusia. Manusia bisa mengerjakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, dengan kekuasaan yang diciptakan-Nya terhadap diri manusia. Ia memerintahkan terhadap apa yang dikehendaki-Nya. Ia hanya menguasai kebaikan-kebaikan yang diperintahkan-Nya dan tidak campur tangan dalam keburukan yang dilarang-Nya.”

Aliran ini juga berpendapat bahwa Allah akan memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan apa yang dibuat manusia. 

3. Janji dan Ancaman

Aliran Mu’tazilah berpendapat bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan mengingkari janji-Nya memberi pahala kepada orang muslim yang berbuat baik, dan menimpakan azab kepada orang-orang yang melakukan perbuatan dosa. Wallahu A’lam

4. Manzilatul Bainal Manzilatain

Prinsip inilah yang memisahkan antara Washil bin Atha dengan majelis Hasan al-Bashri, gurunya sendiri. 

Manzilatul Baina Manzilatain adalah posisi di antara dua posisi. Maksudnya, orang yang berbuat dosa besar itu tidak dikatakan seorang mukmin, dan tidak pula dikatakan seorang kafir. Melainkan menjadi orang fasik. Jadi, menurut mereka, ke-fasik-an merupakan tempat tersendiri (berada di tengah-tengah) antara “kufur”dan “iman”. Tingkatan seorang fasik berada di bawah orang mukmin dan di atas orang kafir. Itulah mengapa ia dinamakan Manzilatul Bainal Manzilatain (posisi di antara dua posisi).

Sumber mereka dalam membuat prinsip ini adalah berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, di antaranya yaitu QS. Al-Isra’ ayat 31, QS. AL-Baqarah ayat 137, serta redaksi hadis Nabi, “Sebaik-baiknya perkara adalah yang berada di tengah-tengah.(Al-Hadis)

5. Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Ajaran Mu’tazilah mengenai Amar Ma’ruf Nahi Munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran) ini lebih cenderung diprioritaskan dalam persoalan-persoalan fikih. Tetapi Amar Ma’ruf Nahi Munkar bukanlah prinsip yang diterapkan golongan Mu’tazilah saja. Prinsip ini juga dipegang dan diamalkan oleh Aswaja, serta kelompok-kelompok moderat lainnya.

Itulah 5 ajaran Mu’tazilah yang harus dipegang oleh kaum Mu’tazilah. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel