Pengertian Israf, Tabzir dan Fitnah Menurut Islam

https://www.abusyuja.com/2020/12/pengertian-ishraf-tabdzir-dan-fitnah-menurut-islam.html
Bismillah, pada kesempatan kali ini, kami ingin membahas sedikit mengenai apa itu Ishraf, Tabadzir dan Fitnah dalam kacamata Islam. Simak selengkapnya:

Pengertian Israf

Ishraf/Israf secara bahasa adalah bersuka ria sampai melewati batas. Sedangkan secara istilah adalah perilaku berlebihan yang dilakukan seseorang di luar batas kewajaran atau kepatutan. Dalam KBBI, melampau batas (berlebihan) dapat diartikan sebagai melakukan tindakan di luar wewenang yang tidak ditentukan berdasarkan aturan atau nilai tertentu yang berlaku.

Allah sendiri dengan tegas membenci orang-orang yang berperilaku Ishraf. Sebagaimana firman-Nya,

“...Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.(QS. Al-A’raf: 31)

Ishraf atau sikap berlebihan merupakan penyakit yang sangat merugikan. Tidak hanya dalam makanan, berlebihan terhadap apapun juga akan berdampak negatif.

Misalnya berlebihan dalam beribadah kepada Allah sehingga lupa menafkahi keluarga dan anak-anaknya, berlebihan dalam bersedekah sampai-sampai harus mengorbankan uang belanja kebutuhan pokoknya sendiri, atau mungkin berlebihan dalam menjamu tamu sehingga membuat tidak nyaman orang yang bertamu.

Rasulullah Saw. pernah bersabda dalam riwayat Umat bin Syuaib, “Makan dan minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah tanpa berlebih-lebihan dan tidak sombong.” (Al-Hadis)

Diceritakan dalam sebuah hadis riwayat Abdullah bin Amr, Rasulullah pernah melihat sahabat Sa’ad sedang berwudhu, kemudian Rasulullah berkata, “Alangkah borosnya wudhumu wahai Sa’ad!” Kemudian Sa’ad bertanya, “Apakah dalam wudhu ada pemborosan?” Rasulullah menjawab, “Tentu, walaupun kamu berada di sungai yang mengalir (sekalipun).” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Tidak hanya dalam pemanfaatan harta, berwudhu pun ternyata juga tidak diperbolehkan apabila dilakukan secara berlebihan. Hal ini tentu akan berkaitan dengan poin pembahasan berikutnya, yaitu tentang Tabadzir.

Pengertian Tabzir

Secara bahasa, Tabadzir/Tabzir diartikan sebagai “boros”, “pemborosan”, atau “menghambur-hamburkan”. Secara istilah, Tabadzir adalah perilaku boros atau perbuatan menghambur-hamburkan uang ataupun barang, karena kesenangan atau kebiasaan.

Perbuatan boros merupakan perilaku tercela, perilaku setan yang dilarang dalam Islam. Allah berfirman,

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 27)

Adapun contoh-contoh perilaku boros dalam kehidupan sehari-hari adalah:

  • Membeli sesuatu yang tidak terlalu penting;
  • Memanfaatkan harta benda secara berlebihan untuk keperluan-keperluan duniawi semata;
  • Seseorang yang berlebihan dalam memuja-muja pola pikir konsumtif dan hedonisme;
  • Dan masih banyak lagi.

Pengertian Fitnah

Fitnah merupakan perkataan bohong yang bermaksud menjelekkan orang.Dalam QS Al-Baqarah ayat 217 dijelaskan bahwa dosa fitnah itu lebih besar dibandingkan membunuh.

Apakah benar demikian? Menurut penafsiran Departemen Agama (DEPAG), kata “fitnah” dalam ayat di atas diartikan sebagai perilaku menganiaya dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan muslimin.

Mereka (DEPAG) juga menambahkan, “Fitnah dapat diartikan sebagai perilaku yang menimbulkan kekacauan, seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka dan menyakiti, atau mengganggu kebebasan mereka dalam beragama.”

Menurut Sayyid Quthub, yang dimaksud fitnah dalam redaksi tersebut adalah fitnah terhadap agama Islam dan umatnya, baik berupa ancaman, tekanan dan teror secara fisik, maupun berupa sistem yang merusak, menyesatkan dan menjauhkan umat manusia dari sistem Allah.

Contoh, kaum Komunis. Mereka adalah simbol dari fitnah agama. Mereka mengharamkan pengajaran agama dan memperbolehkan pengajaran ateisme (ajaran tidak mempercayai adanya tuhan).

Mereka juga menghalalkan segala yang diharamkan agama, seperti zina, judi, dan minum-minuman keras. Dan sebaliknya, menganggap buruk semua keutamaan yang diajarkan dalam agama.

Fitnah-fitnah seperti di ataslah yang dianggap Sayyid Quthub "lebih berbahaya daripada pembunuhan". Wallahu A’lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel