Sejarah Perpecahan Umat Islam Setelah Nabi Wafat

Sejak wafatnya Rasulullah Saw., kaum muslimin sudah mulai menghadapi perpecahan. Tetapi, perpecahan itu menjadi reda karena terpilihnya sahabat Abu Bakar menjadi khalifah pertama. Setelah beberapa lamanya Abu Bakar menduduki jabatan kekhalifahan, mulailah tampak kembali perpecahan yang disebarkan oleh orang-orang murtad dari Islam dan orang-orang yang mengumumkan dirinya menjadi Nabi, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Thulaihah, Sajah dan Al-Aswad Al-Ansy.

Di samping itu, mulailah ada kelompok-kelompok lain yang tidak mau membayar zakat kepada Abu Bakar. Padahal dahulunya mereka semua taat dan disiplin membayar zakat pada era Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi, berkat kebijakan Abu Bakar yang tegas dan bijaksana, perselisihan-perselisihan tersebut akhirnya reda dan dapat diatasi.

Hal yang sama juga dialami oleh khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Berkat keberhasilan yang dialami oleh khalifah Abu Bakar, mereka berdua (Umar dan Utsman) juga mendapatkan imbas baiknya. Kepemimpinan ketiga khalifah tersebut tergolong cukup sukses dan membuat umat muslim pada saat itu berkembang pesan ke pelosok penjuru dunia.

Ketika masa kepemimpinan khalifah Utsman memasuki masa-masa akhir, Islam diperluas hingga ke Afrika, Asia Timur, dan Asia Tenggara. Pada saat itu, ada satu kebijakan Utsman yang kurang mendapatkan simpati dari kaum muslimin. Bahkan mendapatkan tantangan dari beberapa kalangan umat Islam.

Berkat kebijakan Utsman tersebut, pengawasan pengangkatan pejabat kurang diperhatikan, khususnya dalam pengangkatan beberapa pejabat penting dalam pemerintahan daerah, sehingga banyak pejabat-pejabat yang “makan gaji buta” dan tidak melaksanakan tugasnya dengan maksimal.

Kemudian diperparah lagi dengan sikap nepotisme dari khalifah Utsman. Beliau banyak menempatkan para pejabat tersebut dari kalangan keluarganya, sehingga banyak mengandung protes dari berbagai pihak. Tetapi beberapa pihak lagi menganggap hal ini lumrah mengingat rata-rata keluarga Utsman bin Affan memang memiliki kecerdasan yang tinggi.

Namun, berkat sifat-sifat dan kebijakan Utsman inilah yang memicu munculnya fitnah-fitnah yang membuka kesempatan bagi orang-orang yang berambisi untuk menggulingkan pemerintahan Utsman.

Perpecahan Umat Islam

Karena derasnya arus fitnah, banyak dari berbagai kalangan yang mengincar nyawanya hingga mengakibatkan terbunuhnya Sayyidina Utsman bin Affan. Beliau dikepung di dalam rumahnya pada 12 Dzulhijjah 35 H., beliau dibunuh oleh seseorang dari Bani Sadus yang dijuluki sebagai Al-Maut Al-Aswad (kematian hitam). di dalam rumahnya sendiri.

Setelah beliau wafat, pemerintahan dipegang oleh sahabat Ali bin Abi Thalib. Tetapi pengangkatan beliau tidak mendapatkan suara yang bulat. Ada yang diam-diam tidak menyetujui, ada pula yang terang-terangan menentang pengangkatan beliau.

Sejak itulah umat Islam terpecah menjadi beberapa partai.

Kelompok pertama: Yaitu kelompok yang menyetujui pengangkatan Ali sebagai khalifah.

Kelompok kedua: Yaitu kelompok yang netral, tidak mendukung Ali dan tidak pula mendukung kubu yang menentang Ali.

Kelompok ketiga: Yaitu kelompok yang terang-terangan menentang kekhalifahan Ali, di antaranya yaitu Thalhah bin Abdullah, Zubair bin Awam, bahkan istri Rasulullah Aisyah binti Abu Bakar. Semuanya sepakat menjadikan Aisyah komandan untuk menggulingkan khalifah Ali.

https://www.abusyuja.com/2020/12/sejarah-perpecahan-umat-islam-setelah-nabi-wafat.html
Ilustrasi Perang Jamal (Unta). Sumber Gambar: www.sibtayn.com

Mereka (orang-orang yang menentang Ali) menyusun tentara dan menduduki Basrah. Pegawai Ali di Basrah dibunuh semuanya, perbendaharaan mereka pun dirampas. Melihat kondisi demikian, Ali beserta pasukannya akhirnya menuju ke Basrah untuk memerangi mereka. Dan terjadilah pertempuran hebat yang disebut sebagai perang Jamal (unta), karena pada saat itu Aisyah memimpin perang sembari menunggangi unta.

Singkat cerita, pada saat perang Jamal, Thalhah dan Zubair terbunuh. Aisyah tertangkap dan dipulangkan ke Madinah. Tentara Aisyah banyak yang melarikan diri dan bergabung dengan tentara Muawiyah di Syam, yang sama-sama menentang Ali. Singkat cerita, terjadilah pertempuran panjang antara Muawiyah dan Ali, hingga sampai pada perang Shiffin, yaitu perang terakhir antara Muawiyah dan Ali.

Akhir cerita, muncullah tiga kelompok besar yang terbentuk akibat kebijakan Ali terhadap peristiwa tahkim (arbitrase) pada saat perang Shiffin. Kelompok itu adalah Syiah, Khawarij dan Sunni (netral).

Syiah adalah golongan yang fanatik terhadap khalifah Ali bin Abi Thalib dan semua keturunan beliau. Mereka dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada orang yang pantas menduduki kursi jabatan kepemimpinan kecuali dari keturunan Ali.

Khawarij adalah golongan yang awal mulanya setiap dengan khalifah Ali, namun mereka memisahkan diri akibat tidak setuju dengan kebijakan khalifah menerima perdamaian (tahkim/arbitrase) saat perang Shiffin.

Sunni adalah kelompok netral. Awalnya mereka patuh dan taat terhadap kekhalifahan Ali. tetapi kemudian setelah terjadi perpecahan, mereka memilih menjadi golongan yang netral. Mereka berpendidikan, tidak mau mendukung dan mengikuti Ali, tidak pula memusuhi Ali. Karena mereka berkeyakinan bahwa keberpihakan kepada salah satu dari golongan tersebut tidak berakibat baik.

Demikianlah ringkasan mengenai sejarah perpecahan Islam sesudah Nabi wafat. Semoga dapat menambah wawasan keilmuan sejarah kita.  Wallahu A’lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel