Inilah Hikmah-Hikmah Ketika Difitnah Orang Lain

https://www.abusyuja.com/2021/01/ketika-difitnah-orang-apa-yang-harus-saya-lakukan.html
Bagaimana rasanya bila kita dituduh melakukan  sesuatu keburukan yang tidak pernah dilakukan? Bisa terasa sangat menyakitkan bukan. Itu yang disebut dengan Fitnah. Tidak ada satu orang pun yang bisa memastikan dirinya bebas dari fitnah, karena fitnah berasal dari niat jahat orang lain. Upaya yang mampu kita lakukan hanyalah menghindari hal-hal yang bisa mengundang fitnah.

Apabila kita terkena fitnah, maka kebijaksanaan diperlukan untuk menuntut tindakan. Kita tidak boleh sembrono karena bisa membuat orang lain percaya pada fitnah yang terlontar itu. Maka, marilah kita lihat beberapa hikmah yang bisa kita dapatkan ketika terkena fitnah.

1. Sabar

Jangan tergesa-gesa, apa lagi membalas fitnah dengan fitnah. Membalas keburukan dengan keburukan akan membuat kita tidak berbeda, artinya, sama-sama berbuat buruk. Kita harus bisa menunjukkan sikap yang lebih baik, sehingga menjadi pukulan telak bagi orang yang menyebar fitnah tentang diri kita.

Pandangan sinis orang lain yang termakan fitnah memang tidak bisa kita elakkan ,ditambah lagi cacian, hinaan, dan Makian. Namun kita harus tetap bersabar, karena  Allah Swt. tidak akan membiarkan seorang pun hamba-Nya yang bertakwa dizalimi. 

Rasulullah Saw. adalah teladan kita dalam menghadapi badai fitnah. Rasulullah selalu bersabar menghadapi berbagai fitnah yang datang. Tidak pernah beliau membalas atau menggunakan kekuatan untuk membuat kemuliaan beliau semakin terlihat oleh banyak orang.

Akhirnya semakin banyak pula yang menemukannya hidayah untuk mengikuti agama Islam yang beliau serukan. Fitnah terhadap rasul yang menjadi senjata makan tuan bagi para pemfitnahnya.

Di saat Rasulullah menyerukan ayat Al-Qur’an, orang-orang kafir menebar fitnah bahwa Rasulullah mempelajari sihir dan mantra-mantra. Bahkan ada beberapa kalangan yang mengatakan bahwa beliau itu gila, padahal beliau hanya menyampaikan kebenaran, tidak pernah sedikit pun mengikuti hawa nafsu.

Mereka pun menyampaikan berita itu kepada orang-orang yang masuk ke Mekah agar tidak bertambah pengikut Rasulullah. Seperti yang dialami Thufail bin Amr Ad-Dausy. Mereka menakut-nakutinya sehingga Thufail sampai-sampai menutup telinganya dengan kapas saat hendak ke Ka'bah. Takdir Allah,  Thufail tetap mendengarkan bacaan Al-Qur’an Rasulullah, dan itu menjadi jalan yang mengantarkannya kepada hidayah.

Kesabaran itu meskipun rasanya pahit, tapi manis di ujungnya. Sedangkan kemarahan itu meskipun terasa mudah, tetapi menambah kesulitan di akhirnya.

2. Mendekatkan diri kepada Allah 

Saat banyak orang yang berniat jahat Dengan menyebarkan fitnah tentang diri kita, akan ada banyak pula orang-orang bodoh yang menelan mentah-mentah fitnah itu dan mencaci-maki. Itu membuat kita mendekat kepada Allah Swt. karena Allah Maha Mengetahui segala kebenaran. Cukuplah kita memohon ridho dan pertolongan-Nya.

Ummu Mu’minin,  Aisyah ra. pernah dilanda fitnahyang sangat menyakitkan. Waktu itu, Aisyah ikut bersama Rasulullah berperang ke wilayah Bani Musthaliq. Saat hendak pulang ke Madinah, rombongan ini berhenti di suatu tempat untuk beristirahat. Kesempatan itu digunakan oleh Aisyah untuk pergi menunaikan hajat.

Selepas itu, ia buru-buru kembali ke sekedupnya. Namun, ia menyadari bahwa kalung yang hilang mungkin terjatuh saat ia menunaikan hajat, pikirnya. Sehingga ia kembali ke tempatnya tadi. Benar saja, setelah mencari-cari, ia mendapati kalau menjadi tempat itu.

Takdir Allah, saat ia kembali ke lokasi peristirahatan, rombongannya ternyata sudah berangkat. Mereka tidak tahu bahwa Ummu Aisyah belum naik ke sekedup. Kemudian Aisyah yang memutuskan untuk tetap di tempat itu dan menunggu jika saja rombongan menyadari ketertinggalannya dan kembali untuk menjemput.

Seorang sahabat bernama Shafwan Bin Muthalib bertugas menyusur di belakang iring-iringan rombongan. Maka dialah yang menemukan Ummul mukminin Aisyah ra. di tempat peristirahatan.

Innalillah...Ummu Mu’minin tertinggal.” Katanya saat menemukan Aisyah.

Shafwan Bin Muthalib mempersilahkan Ummul Mu’minin Aisyah untuk naik ke hewan yang ia tunggangi, sedangkan ia sendiri berjalan kaki sembari menuntun di depan. Ia tidak sekali pun melirik ke belakang, apa lagi berbicara dengan Aisyah. Mereka terus begitu sampai tiba di tempat rombongan beristirahat.

Tindakan ini menunjukkan kemuliaan akhlak yang dimiliki Shafwan. Ia benar-benar menjaga adab kepada Aisyah dan ketaqwaannya kepada Allah Swt.

Sewaktu melihat kejadian itu, beraksilah pemimpin munafik bernama Abdullah bin Ubay untuk menyebarkan fitnah. Dia menuduh telah terjadi perselingkuhan antara Aisyah dan Shofwan. Rombongan pun riuh. Tidak hanya itu, kabar bohong itu jaga juga telah sampai ke Madinah, semua orang pun ikut membicarakannya.

Fitnah itu sangat menyakitkan bagi Aisyah, terlebih Rasulullah tidak berbicara sedikitpun dengannya, apalagi membelanya. Rasulullah kala itu belum mendapatkan keterangan dari Allah mengenai hal tersebut.

Aisyah berdiam di rumah Abu Bakar as-Siddiq, ayahnya, yang juga tidak mengeluarkan pernyataan apa-apa. Keluarga Abu Bakar merupakan keluarga yang masyhur dan berwibawa, keluarga yang mulia, tetapi kali  ini mereka benar-benar terpukul. Tidak ada yang bisa dilakukan selain meminta petunjuk dari Allah. Doa-doa Syahdu terlantun setiap saat. Semoga Allah menunjukkan kebenaran.

Ramainya orang membicarakan dan memberikannya tanggapan miring membuat Aisyah tertekan, sehingga sakit, Teramat sakitnya bila kita dituduh telah melakukan perbuatan keji padahal orang yang menuduh tidak pernah memberikan bukti, sementara Ia pun tidak bisa membuktikan kesuciannya. Hanya Allah yang dinantikan memberi pertolongan.

Di waktu yang tepat, Rasulullah pun menerima penjelasan dari Allah yang tercatat dalam surat an-Nur. Di dalam ayat tersebut menyatakan kesucian Ummul mukminin Aisyah serta kecaman yang keras kepada orang-orang yang membuat fitnah dan menyebarkannya. (Baca Quran surat An-Nur ayat 11)

Demikianlah, apabila kita bersabar dan terus mendekatkan diri kepada Allah, niscaya akan datang pertolongan yang membungkam siapa saja yang turut andil menyebarkan fitnah.

3. Meningkatkan derajat 

Sebagaimana dijelaskan oleh Napoleon Hill, “Anda akan naik satu tingkat apabila mampu memperlakukan orang lain lebih baik dari perlakuannya.”

Begitu tuduhan yang dilemparkan terbukti sebagai Fitnah, maka tidak akan ada lagi yang mencela orang yang difitnah. Dan celaan yang lebih dahsyat pun bertubi-tubi dilemparkan pada orang-orang yang getol menyebarkan fitnah.

Sebagaimana yang terjadi pada Abdullah bin Ubay yang memfitnah Aisyah, pada akhirnya orang-orang membencinya. Allah Swt. juga telah mengancam akan memberi azab yang dahsyat untuknya, begitulah, dicela di bumi, dibenci pula di langit.

Adapun orang yang terkena fitnah dan tetap mau menerima dan bersabar menghadapinya, niscaya kebenaran akan terungkap, kemuliaannya akan bertambah, Allah akan menyediakan pahala atas keteguhan hati dan kesabarannya, serta orang-orang pun akan memujinya, begitulah, dipuji di bumi, dimuliakan pula di langit.

Pembaca yang dirahmati Allah, demikianlah, kita memang harus berupaya menjauhi fitnah, tetapi tidak ada jaminan yang selalu membuahkan keberhasilan. Maka, bila suatu saat fitnah melanda, mari kita sikapi dengan arif dan bijaksana. Insya Allah, Allah akan menolong orang-orang yang benar.

Itulah pembahasan singkat mengenai beberapa Hikmah yang bisa kita ambil apabila kita terkena fitnah. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat. Wallahu A’lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel