Nasihat KH. M. Moenawwir Untuk Para Penghafal Al-Qur’an

Nasihat KH. M. Moenawwir Untuk Para Penghafal Al-Qur’an
Penghafal Al-Qur’an merupakan manusia mulia yang selalu mendedikasikan hidupnya untuk menjaga firman-firman Allah. Di masa Nabi, banyak sahabat yang menjadi penghafal Al-Qur’an yang menyebarkan Al-Qur’an. Dari lisan mereka, Al-Qur’an terjaga keasliannya sampai sekarang.

Di Indonesia, ada sosok kyai yang dikenal mumpuni dalam bidang Al-Qur’an. Beliau menjadi rujukan para ahli Al-Qur’an di Indonesia, yakni KH. M. Moenawwir. Para ahulul Qur’an yang ada di negeri ini kebanyakan adalah murid-murid beliau. di sini, kami akan menjelaskan secara singkat mengenai profil, pesan, dan riyadhah beliau hingga menjadi ahli Al-Qur’an yang benar-benar memumpun.

Beliau adalah orang yang sederhana dengan segudang ilmu. Khususnya dalam bidang Al-Qur’an. Beliau banyak menelurkan murid-murid yang berkualitas yang tidak diragukan lagi kemampuannya.

Para guru Al-Qur’an pun juga banyak yang merujuk kepada beliau. Dibuktikan dengan sanad Al-Qur’an mereka melalui beliau. Beliau belajar Al-Qur’an di Makkah dan Madinah selama 21 tahun. Selama 16 tahun, beliau mendalami Al-Qur’an di Makkah dan 5 tahun di Madinah untuk mendalami ilmu-ilmu syariat.

Itulah sedikit profil tentang beliau. Dan sekarang, sesuai judul di atas, berikut nasihat-nasihat atau pesan beliau untuk para penghafal Al-Qur’an.

“Wahai putra dan menantuku yang mempunyai tanggungan Al-Qur’an, apabila kalian belum lancar Al-Qur’an, jangan sampai merangkap apa pun, baik berdagang atau yang lainnya.”

Nasihat ini jelas terlihat sederhana, akan tetapi memiliki makna yang berat. Janganlah kita menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan lain sebelum hafalan Al-Qur’an kita bagus dan lancar.

Nasihat beliau menjadi pengingat bahwa kita wajib menomorsatukan Al-Qur’an daripada aktivitas lainnya. Untuk beranjak ke kegiatan lain, kita haruslah memperlancar hafalan Al-Qur’an secara baik terlebih dahulu.

Mari kita contoh riyadhah yang dilakukan oleh KH. M. Moenawwir sehingga beliau menjadi maestro Al-Qur’an. Di antara riyadhah yang beliau lakukan adalah:

Pertama, tujuh hari tujuh malam khatam Al-Qur’an satu kali selama tiga tahun.

Kedua, tiga hari tiga malam khatam Al-Qur’an selama tiga tahun.

Ketiga, sehari semalam khatam Al-Qur’an selama 3 tahun.

Keempat, 40 hari membaca Al-Qur’an tanpa berhenti sampai-sampai mulut beliau mengeluarkan darah.

Hal ini beliau lakukan bertujuan untuk menguji tingkat keberhasilan dalam menghafal dan menyelami Al-Qur’an. Sekarang pertanyaannya, mampukah kita meniru beliau?

Terakhir, ingatlah, penghafal Al-Qur’an adalah keluarga Allah di bumi ini. Dia memercayakan Al-Qur’an dalam dadamu. Ini merupakan amanah yang mulia yang pada hakikatnya adalah tanggungjawab agung serta tugas yang harus dipikul dan dilaksanakan.

Adapun musuh terbesar para penghafal Al-Qur’an adalah sifat sombong, riya' dan sum’ah ketika mendengar pujian manusia. Ketahuilah sifat-sifat tersebut dapat meruntuhkan amal-amal yang telah dikerjakan selama ini. Jauhilah maksiat dan perkara syubhat serta laksanakan kebaikan-kebaikan.

Itulah beberapa nasihat penting dari ulama-ulama kita untuk para penghafal Al-Qur’an. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam

Sumber gambar: Doc. Ponpes Al Munawwir Krapyak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel