Apa Itu Dosa Jariyah? Bagaimana Cara Taubatnya?

Apa Itu Dosa Jariyah? Bagaimana Cara Taubatnya?

Sebelum ke dosa jariyah, kita pahami dulu apa itu amal jariyah. Amal jariyah adalah segala perbuatan yang sifatnya mengalir. Maksudnya, kalau amal perbuatan jariyah tersebut berupa perilaku kebaikan (pahala jariyah), maka yang terus mengalir adalah pahalanya. Sedangkan kalau amalan jariyahnya perilaku yang buruk (dosa jariyah), maka yang mengalir adalah dosanya.

Itulah sedikit penjelasan mengenai apa itu jariyah. Sekarang kita ke contoh-contohnya.

Kalau seseorang meninggalkan salat, maka ia akan berdosa seketika itu, tetapi sifatnya tidak jariyah. Berbeda kalau dia memberi berita bohong kepada masyarakat, dan masyarakat tersebut menyebar luaskannya secara terus menerus. Maka, dosa yang ia tanggung adalah dosa jariyah.

Sebab, keburukan yang ia awali sebelumnya, secara terus-menerus tersebar luas. Selagi berita bohong itu masih disebarkan, maka orang yang membuat berita bohong itu akan terus-menerus mendapatkan dosa. Itulah contoh kecil dari dosa jariyah.

Contoh lain, seorang wanita yang mengunggah foto syur-nya di media sosial. Selama foto tersebut masih dipandang oleh para laki-laki dengan nafsunya, maka mengalirnya dosa tersebut kepada wanita itu.

Bahkan, ketika ia sudah mati sekali pun, kalau akun media sosialnya masih aktif, terdapat foto-foto fulgarnya, dan masih dipandangi pula oleh para lelaki, maka dosa wanita tersebut akan tetap mengalir.

Dan sebaliknya, yaitu amal jariyah kebaikan. Ketika seseorang membeli keramik untuk disumbangkan di masjid, maka ia akan mendapatkan pahala secara terus-menerus selama keramik tersebut masih digunakan untuk beribadah.

Contoh lain, seseorang yang membeli Al-Qur’an untuk disumbangkan di masjid-masjid. Selama Al-Qur’an itu masih dibaca, maka pahalanya akan terus mengalir, bahkan ketika ia sudah mati. Sama halnya dengan penulis. Selagi karyanya masih terus memberikan manfaat untuk orang lain, maka pahalanya akan terus mengalir.

Dalam kitab Faidhul Qadir dijelaskan:

Orang yang menulis tulisan yang bermanfaat akan mendapatkan pahala sendiri, pahala orang yang membaca, yang menulisnya kembali, dan yang mengamalkannya selama tulisan tersebut masih ada. Begitu juga dengan orang yang menulis sesuatu yang mengandung dosa, ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengamalkannya selama tulisan tersebut masih ada.” (Faidhul Qadir, terbitan Darul Kutub ‘Ilmiyyah, Juz 1: 561)

Orang yang menulis buku soal tata cara salat, maka ia akan mendapatkan pahala dari orang yang membacanya, dan orang yang mengamalkannya. Sebaliknya, orang yang membuat buku soal keburukan dan hal negatif, ia akan diganjar dosa jariyah, selama masih ada orang yang membacanya, dan orang yang mengamalkannya.

Tata cara bertaubat dari dosa jariyah

Kembali ke persoalan dosa jariyah. Bagaimana cara taubatnya?

Dalam kitab Faidhul Qadir, oleh Syaikh Zainuddin Muhammad al-Munawi, dijelaskan:

Bagaimana caranya bertaubat dari dosa sebab mengajak orang banyak melakukan kemaksiatan ketika sudah banyak yang melakukannya? Caranya dengan menyesalinya dan mencegah orang lain melakukannya sebisa mungkin.” (Faidhul Qadir, terbitan Darul Kutub ‘Ilmiyyah, Juz 6: 162)

Dari dalil di atas dapat disimpulkan bahwa cara bertaubat dari dosa jariyah adalah dengan menyesalinya dan sebisa mungkin melakukan pencegahan atas segala keburukan yang berasal dari ulahnya sendiri.

Kenapa sebisa mungkin? Karena setiap manusia tetap memiliki keterbatasan. Bayangkan, kalau dosa tersebut berasal dari ribuan orang maksiat yang kemudian sumbernya ternyata hanyalah berasal darinya, bagaimana mungkin ia mampu menghentikan semua orang yang terlibat?

Maka, cara bertaubat yang paling benar adalah:

  1. Menyesali dan berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
  2. Menutupi kesalahan dengan amalan-amalan jariyah yang baik, seperti bersedekah, infak, dan menyantuni anak yatim.
  3. Ikut menyiarkan kebenaran, serta menentang kesalahan yang telah ia lakukan dulu. Kalau ia pernah menulis buku yang sesat, maka ia harus menulisnya kembali di atas alur kebenaran.
  4. Jika dulu ia pernah berdakwah dengan ajaran sesat, maka ia harus memukul ajarannya dulu dengan ajaran baru yang dibenarkan dalam Islam.
  5. Jika dulu ia pernah menyebarkan berita-berita bohong dan foto-foto yang tidak dibenarkan secara syara’, maka “semaksimal” mungkin (sesuai kemampuannya), dokumen tersebut harus dimusnahkan.

Itulah penjelasan singkat mengenai apa itu amal jariyah dan dosa jariyah lengkap dengan tata cara taubatya. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat. Wallahu A’lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel