Kisah Ayah Imam Syafi’i dalam Mencari Jodohnya

Daftar Isi

Kisah Ayah Imam Syafi’i dalam Mencari Jodohnya
Abusyuja.com – Seorang laki-laki menyusuri jalan dengan perasaan waswas. Entah sudah berapa lama ia berjalan. Rambutnya terlihat kusut, wajahnya menghitam karena debu, jejak-jejak kepayahan telah menghiasi seluruh wajahnya.

Tak diketemukannya pemilik buah apel yang baru ia makan setengah, dan berulah ia menyadari bahwa dirinya belum meminta izin pemiliknya untuk memakan buah yang raum itu.

Ia merasa gelisah dan punya satu tekad untuk meminta izin dari pemiliknya, agar remah buah apel yang masuk ke dalam perutnya terjamin status halalnya.

Tetapi, sampai sehari perjalanan ia belum menemukan pemilik buah apel tersebut. Buah yang ditemukannya di sungai, terbawa arus saat ia kebetulan tengah mandi di sana.

Maka dalam menyusuri jalan ini, ia perhatikan sisi kanan dan kiri sepanjang aliran sungai, sampai ia benar-benar menemukan sebuah pohon apel yang dahannya menjulur ke sungai. Beberapa buahnya juga berada di atas aliran sungai.

Ia bertanya pada penduduk setempat tentang pemilik buah apel itu, lalu ditunjukkanlah siapa pemiliknya. Lelaki itu kemudian mengatakan perbuatan lancangnya, memakan buah apel tanpa izin pemiliknya.

"Aku meminta keikhlasan darimu, apakah kau rela mengizinkan aku memakan buahmu?”" tanya lelaki tersebut.

"Tidak semudah itu," kata si pemilik buah apel.

"Jadi, apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan keikhlasan darimu?" harap lelaki itu.

"Aku ingin kau bekerja di kebunku selama satu bulan, dan selama itu kau tidak akan dibayar," jawab si pemilik buah apel.

Sekalipun syaratnya berat, tetapi demi mendapatkan status halal dari buah apel yang dimakan, ia pun menyetujuinya. Selama sebulan itu, lelaki yang bernama Idris bekerja keras siang dan malam membersihkan kebun si pemilik buah apel dengan penuh ketabahan.

Sekalipun hanya dibayar dengan status kehalalan dari buah yang dia makan, itu sudah lebih dari cukup untuk menjadikannya bekerja penuh semangat.

Tak terasa ia telah menyelesaikan pekerjaan yang dijanjikannya. Tibalah saatnya bagi Idris untuk menagih janji dari si pemilik kebun apel; mendapatkan status halal dari buah apel yang dulu ia makan. Namun, lagi-lagi si pemilik kebun apel memungkirinya.

"Tidak semuda itu," katanya.

"Harus dengan apa lagi saya meminta keikhlasanmu?" tanya Idris kembali.

"Kamu harus menikahi putri saya. Ia buta, tuli, bisu, dan lumpuh!" Tawar pemilik pohon apel, yang membuat Idris terhenyak.

Ia sebenarnya sudah menolak, akan tetapi demi mendapatkan keridaan si pemilik kebun apel, agar status kehalalan buah apel yang dimakannya tidak menjadi sebab dibakarnya dirinya dalam api neraka, maka lagi-lagi Idris menyanggupinya.

Maka, dimulailah pernikahan itu secara sederhana. Setelah ijab kabul dilaksanakan dan Idris hendak melihat calon istrinya, alangkah kagetnya sebab memperlain perempuan yang dinikahinya cantik sekali.

"Bahkan istriku seseorang yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh kakinya, berarti dia bukan untukku."

Idris marah. Ia merasa dikecewakan dan seperti dijebak. Ia hendak menyudahi pernikahan itu karena calon istrinya bukanlah yang diharapkan.

Ia telah mempersiapkan mental dan dirinya siap untuk menerima semua keputusan takdir dari Allah, namun semuanya tiba-tiba berubah.

Sebelum ia hendak membatalkan pernikahannya, ayah sang gadis tidak lain adalah si pemilik kebun apel itu memberi tahu Idris,

"Yang dimaksud buta adalah ia tidak pernah melihat yang diharamkan Allah, telinganya juga tidak pernah dipakai untuk mendengar gunjingan atau hal-hal yang dilarang Allah, bahkan mulutnya tak pernah dipakai untuk mengatakan hal-hal yang tidak senonoh, tidak pernah untuk mencaci maki atau menggunjing. Begitu pun kakinya, juga tidak pernah dipakai berjalan ke tempat-tempat maksiat. Aku sudah melihat kesungguhanmu, anak muda. Kurasa kaulah lelaki yang paling tepat untuk kunikahkan dengan putriku.”

Akhirnya pasangan tersebut dikaruniai anak yang diberi nama Muhammad. Ia menjadi seorang hafiz Al-Qur’an , penghafal ribuan hadis, ulama mazhab yang fikihnya dianut jutaan umat manusia, seseorang yang kita kenal dengan nama Imam Syafi’i.

Tidak ada kaum muslimin yang tidak mengenal beliau. Kepakaran beliau dalam ilmu fikih sudah tidak diragukan lagi. Bersama-sama dengan Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik, kontribusinya sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat Islam di dunia.

Kemuliaan Imam Syafi'i tak lepas dari tirakat orang tuanya. Keimanan dan semangat sang ayah untuk memakan makanan yang halal sampai harus dilalui dengan berbagai cobaan, akhirnya membuahkan anak yang saleh.

Mertua dari Idris (si pemilik apel) diam-diam menguji, apakah Idris layak mendapatkan putrinya, karena putrinya pun benar-benar terjaga kesuciannya. Istilah lumpuh, buta, bisu, dan tuli hanyalah penggambaran akhlaknya yang elok.

Bagaimana mungkin Idris bukan lelaki saleh, jika sekarat apel yang dimakannya harus meminta keikhlasan dari pemiliknya. Bahkan buah apel itu sudah jatuh ke sungai, dan buah yang jatuh di sungai, berarti bukan milik siapa-siapa lagi. Namun, karena Idris lelaki saleh, hal ini menjadi masalah.

Karena sikap waraknya, yakni berhati-hati dalam menjalani syariat Islam, ia memilih untuk bekerja tanpa dibayar daripada tubuhnya dibakar dalam neraka karena ada makanan haram yang masuk ke perutnya.

Itulah kisah ayah Imam Syafi’i dalam menemukan jodohnya. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat. Wallahu A’lam