Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Virus Perontok Keharmonisan dalam Rumah Tangga

Virus Perontok Keharmonisan dalam Rumah Tangga
Abusyuja.com - Agar rumah tangga bisa berjalan terus untuk mencapai visinya, perlu dilakukan upaya untuk menjaga keharmonisannya. Kalau nuansa harmonis dalam rumah tangga masih saja bermasalah, energi kita akan habis memikirkan masalah-masalah itu, lalu pencapaian tujuan pun terbengkalai.

Mengingat pentingnya hal ini, perlulah kita membahas tentang virus-virus yang menjadi penyebab rontoknya keharmonisan di dalam rumah tangga, sekaligus upaya menghilangkan virus-virus itu.

Pertama, terlampau mudah mengumbar permasalahan internal rumah tangga. Ini bisa terjadi pada pihak suami, istri atau keduanya: begitu ada masalah langsung diceritakan kepada pihak masing-masing. Alhasil, permasalahan yang sebenarnya sederhana dan sepele menjadi rumit dan sulit. Tambah lagi adanya campur tangan pihak yang memang ingin rumah tangga kita retak, permasalahan bisa jadi tambah ruwet.

Ada sepasang suami istri yang awalnya tampak sangat serasi, pas, dan cocok. Tapi, begitu pernikahan masuk di tahun ketiga, mulailah terlihat corak-corak masalah. Mereka tidak bisa menyelesaikan masalah kecil sekalipun. Mereka hanya bisa mengadu ke keluarga masing-masing. Persis seperti pohon yang akarnya rapuh, sekali saja angin terembus ke arahnya pohon itu bisa roboh. Begitulah keadaan mereka, ketika senang bisa akur, tapi tidak bisa berkomitmen ketika terjadi masalah.

Penyakit ini bisa dihindari dengan memantapkan komitmen masing-masing. Harus ada kesepakatan kalau permasalahan itu masih bisa selesai di dalam, harus dijaga agar tidak sampai merembes keluar. Apalagi di zaman sosial media seperti sekarang ini, banyak orang yang sedikit-sedikit mengumbar masalahnya di sosial media. Padahal, perilaku seperti itu bisa menjatuhkan kehormatannya. Penting kita ingat, kalau berita tentang rumah tangga kita sudah menyebar ke luar, kita tidak bisa lagi mengendalikannya. Kita pun tidak bisa mengendalikan akibatnya kelak.

Adapun kalau permasalahannya memang membutuhkan campur tangan orang luar, maka diusahakan agar orang terdekat kita yang dimintai nasihat. Selain itu, syarat lainnya adalah bijaksana dan terpercaya. Sia-sia meminta nasihat kepada orang yang tidak bijaksana. Menjadi penyebab celaka pula bila meminta nasihat pada orang yang tidak terpercaya.

Kedua, kurang sabar dan kurang bersyukur. Virus ini juga bisa menghancurkan keharmonisan dalam rumah tangga. Kurang bersyukur menjadikan kita fokus hanya melihat pada yang kurang, lalu abai pada yang sudah ada. Akhirnya, pikiran tertekan, sibuk mengeluh, menggerutu, dan meratapi nasib.

Bersabar juga menjadi terasa sulit bagi sebagian orang, misalnya seorang suami atau istri yang saat bersama keluarganya hidup di rumah yang mewah, uang tidak pernah kurang, dan selalu makan enak. Tiba-tiba, setelah menikah, didapatinya keadaan yang tidak sama dan tidak setara. Di saat seperti itu, sikap sabar dan syukur akan meredakan jiwa. Kalau tidak, maka akan terjadilah cekcok.

Solusi untuk permasalahan ini adalah mempertebal keyakinan kepada Allah Swt. Boleh jadi keadaan sulit yang kita alami saat ini ialah ujian dari-Nya yang apabila kita sanggup menghadapinya, akan hadir keadaan yang jauh lebih baik. Maka dari itu, bersabarlah. Kemudian, bersyukurlah atas apa yang sudah ada. Bukankah kita tahu bahwa rasa syukur akan mengundang karunia Allah? Kenapa kita tidak yakin?

“Dan ingatlah ketika Rabb-mu memberi peringatan, ‘Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat-Ku bagimu. Jika kamu mengingkarinya (kufur), sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.’” (QS. Ibrahim: 7) 

Selain mengeluh dan menggerutu, orang yang kurang sabar dan kurang bersyukur juga akan menjadi pribadi yang tamak. Meskipun keadaannya sudah jauh lebih baik dari orang lain, orang yang tamak akan tetap merasa kurang. Yang ada di pikirannya hanya upaya untuk menambah kekayaan, lagi dan lagi. Ketamakan itu benar-benar akan menyiksa, seperti orang haus yang meminum air garam, dahaganya akan menjadi-jadi.

Ada nasihat klasik yang maknanya sangat padat, “Alam ini lebih dari cukup untuk mencukupi kebutuhan seluruh manusia, tapi tidak akan pernah cukup untuk menjadi penawar ketamakan seorang manusia pun.” Mari kita renungkan sama-sama.

Ketiga, mudah melupakan kebaikan dan susah melupakan keburukan pasangan. Terbalik dengan pesan Ustadz Rahmat Abdullah, “Hendaklah engkau mengingat kebaikan orang lain terhadapmu dan keburukanmu terhadap orang lain. Hendaklah engkau melupakan kebaikanmu terhadap orang lain dan keburukan orang lain terhadapmu.”

Jika kita mengingat-ingat kebaikan orang lain, kita akan termotivasi melakukan hal yang sama, bahkan yang lebih baik lagi. Kalau kita selalu mengingat keburukan kita terhadap orang lain, meskipun kita sudah meminta maaf darinya, maka kita jadi ingin berbuat baik lebih banyak kepadanya.

Adapun bila kita hanya mengingat kebaikan kita dan keburukan orang lain, kita akan merasa lebih baik, memendam benci, dengki, dan juga dendam. Penyakit-penyakit hati itu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Apalagi kalau penyakit hati itu kita simpan untuk pasangan kita, kehidupan rumah tangga kita menjadi sarang masalah, kemarahan, dan kebencian satu sama lain. Padahal, setiap hari kita berdoa agar keindahan di rumah tangga menjadi secicip kenikmatan surga.

Sahabatku, apa obatnya untuk penyakit ini? Waspadalah selalu. Pilah-pilih dulu apa saja yang boleh mengisi hati kita. Jangan biarkan keburukan masuk. Kalau pasangan kita berbuat buruk, bencilah keburukannya, lalu selamatkan pasangan kita darinya. Nasihatkan kebaikan kepadanya. Kelak, saat kita yang bersalah, dirinya juga hadir dengan nasihat yang indah.

Keempat, enggan menerima nasihat. Ini virus yang sangat membahayakan. Enggan menerima nasihat bisa menjadikan kita berkutat di kubangan keburukan dalam waktu yang lama. Lantas, bagaimana solusinya?

Ada dua kemungkinan yang bisa menyebabkan seseorang sulit menerima nasihat. Satu, orang tersebut memang bebal menerima nasihat atau (na’udzu billah) hatinya telah tertutup dari pintu hidayah. Dua, orang yang menyampaikan nasihat itu membeber pesannya dengan cara yang tidak tepat.

Untuk kemungkinan pertama, solusinya adalah kesabaran. Mudah-mudahan, gigih dan bersungguh-sungguhnya kita memberikan nasihat menjadikan hati yang hitam pekat menjadi putih lagi. Pelan-pelan, semoga noda yang berkarat di dinding hati hilang.

Bagaimana jika keburukan yang diperbuat itu sangat berat dan pelakunya tetap tidak mau berubah meskipun sudah berulang kali diberi nasihat? 

Ada suami atau istri yang mengalami hal demikian, pasangannya tetap saja berbuat keburukan yang bisa membahayakan agama keduanya, maka sangat disarankan untuk bermusyawarah dengan keluarga. Semoga ditemukan solusi yang menyelamatkan dan menghasilkan kebaikan.

Untuk kemungkinan kedua, mari kita evaluasi lagi cara kita memberi nasihat. Pesan yang baik saja tidak cukup untuk mengubah orang lain, tapi dibutuhkan juga cara penyampaian yang tepat. Mari kita teladani sikap Rasulullah Saw. dalam berdakwah membimbing umatnya. Beliau berdakwah dengan sabar, lembut, dan halus. Selain itu, kita perlu pula menjaga diri agar tidak memberi nasihat di tengah orang ramai. Sebab, harga diri pasangan bisa jatuh karenanya. Nasihat pun tidak akan diterima, karena respons yang duluan muncul adalah mengembalikan harga diri. Tentu, dengan bantahan-bantahan keras.

Kelima, sulit mengendalikan amarah. Orang yang tidak bisa mengontrol dirinya, tidak bisa meredam amarahnya, akan banyak berbuat keburukan yang kelak disesali dirinya sendiri.

Ada cerita seorang suami yang pemarah. Kemarahannya selalu meledak-ledak saat melihat kesalahan istrinya, padahal sifatnya sepele. Suatu waktu, istrinya memasak sayur dengan garam yang terlampau banyak, sehingga rasanya sangat asin. Suami yang kelewat marah itu pun tak bisa mengontrol dirinya. Ia mencela istrinya sejadi-jadinya. Sampai pada puncaknya, ia menjatuhkan talak.

Malam itu juga istrinya memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Apa yang terjadi kemudian?

Dua hari berikutnya, lelaki itu datang ke rumah mertuanya untuk meminta maaf, meminta agar keduanya rujuk. Ia mengaku telah menyesal atas kecerobohannya. Ia baru sadar betapa sungguh-sungguh istrinya memberikan yang terbaik. Ia baru sadar bahwa kebaikan istrinya sangat banyak. Begitulah, penyesalan selalu datang di akhir. Sering kali, setelah keadaan tak bisa diperbaiki lagi. Seperti lelaki itu, pihak istri yang sudah terlanjur sakit hati ternyata tak lagi berkenan rujuk. Alasannya, karena lelaki tadi sudah berkali-kali memarahi isrtinya dengan cara yang kejam, padahal kesalahannya sepele.

Sahabatku, amarah ialah kendaraan yang ditunggangi setan untuk menjatuhkan manusia ke lembah keburukan. Maka, Rasulullah Saw. menasihatkan kepada kita, “Janganlah marah, bagimu surga.” (HR. Muslim)

Di antara delapan pintu surga, satu di antaranya adalah pintu Al-kaazhimiinal ghaiza wal ‘aafiina ‘anin naas (menahan diri dari amarah dan memberi maaf pada orang lain). Semoga kita termasuk orang yang berhak masuk dari pintu ini. Aamiin.

Keenam, berbicara kasar. Saat ini, sangat banyak orang yang dengan mudahnya mengucapkan nama-nama hewan untuk menghina orang lain, juga menggunakan kata-kata yang menyakitkan. Kalau itu terjadi di tengah keluarga, keretakan bisa terjadi. Hati yang lembut pasti membenci kata-kata yang kasar, maka alangkah tepat bila kita menjauhinya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Bila kelembutan menghinggapi sesuatu, akan dihiasinya sesuatu itu. Bila kelembutan tak mengisi sesuatu, maka sesuatu itu akan buruk karenanya.”

Sahabatku, orang yang lisannya kasar itu tetap tidak suka bila orang berbicara kasar kepadanya. Maka, mari kita biasakan diri untuk berbicara dengan lembut, apa pun keadaan yang kita alami.

Ketujuh, keakuan. Terbiasa berpikir “aku” dan “kamu” juga bisa menjadi salah satu penyebab rontoknya keharmonisan di dalam setiap hubungan. Ketika terjadi masalah, masing-masing saling menyalahkan. Ketika menghadapi sesuatu, keduanya mementingkan kewajibannya masing-masing lalu membiarkan yang lain. Sungguh, keakuan itu akan mengikis rasa sayang, menjauhkan keluarga dari kesejukan, dan mengundang perpecahan.

Sahabatku, di dalam kehidupan rumah tangga, kita akan sering menghadapi tantangan, maka hendaknya kita menjaga kekokohan hubungan agar tantangan itu berhasil dilalui. Seperti lidi, kalau tercerai berai, sampah kecil pun tak bisa disapu, tapi sampah sebesar pun bisa disapu kalau bersatu.

Kedelapan, cinta pada dunia. Apa tandanya seseorang mencintai dunia? Ia akan merasa sedih ketika penghasilan berkurang, tapi tidak sedih ketika kualitas ibadahnya rendah. Ia merasa senang jika diberi barang-barang berharga, tapi tidak ketika diajak menginfakkan harta di jalan Allah Swt. Bangga ketika dipuji orang lain, tapi tidak berusaha menjadi pribadi yang baik di hadapan Allah. Seseorang disebut cinta pada dunia jika suasana hatinya dipengaruhi oleh dunia.

Rasulullah Saw. menjelaskan, “Seorang mukmin adalah orang yang bergembira atas kebaikannya dan bersedih atas keburukannya.” (HR. Muslim)

Orang yang beriman sadar betul bahwa segala yang ada di dunia ini hanya sementara, tidak ada yang abadi. Maka, menaruh cinta pada yang sementara, lalu mengorbankan keabadian adalah pertanda kebodohan. Mana ada orang yang mau menukar keabadian dengan kesementaraan?

Sahabatku, mari kita sadari sama-sama, sejatinya kita hanya singgah sebentar di dunia ini. Akan tiba masanya kita beranjak. Saat itu, tidak berguna lagi harta yang kita kumpulkan sebanyak apa pun itu. Tidak berguna lagi penghormataan yang diberikan sesama manusia. Tidak berguna lagi ketinggian jabatan. Kita tidak ditanya tentang semua itu. Kita ditanya tentang tanggung jawab: apa saja yang kita lakukan dengan semua anugerah Allah Swt.

Mari kita buang kecintaan pada dunia dari hati kita, dengan banyak-banyak zikir kepada Allah Swt. dan mengingat-ingat bahwa kelak kita akan meninggalkan dunia ini. Mari mencintai Allah dengan sepenuh hati, agar tidak ada lagi tempat untuk rasa cinta terhadap dunia di hati kita.

Sahabatku, demikian itulah virus-virus yang bisa menyebabkan keluarga kita jauh dari keharmonisan. Semoga catatan ini bermanfaat bagi kita semua, menjadi pengingat dan nasihat sebagai bekal untuk menjalin rumah tangga yang berlimpah berkah. Aamiin.