Mengenal Lebih Dalam Liberalisme Agama

https://www.abusyuja.com/2020/04/mengenal-lebih-dalam-liberalisme-agama.html
Abusyuja.com_Selain gerakan kelompok radikal, ada pihak lain yang perlu diwaspadai oleh umat Islam, yaitu kaum liberal dengan segala pemikirannya.

Islam Liberal

Istilah Islam liberal pertama kali digunakan oleh sarjana-sarjana barat seperti Leonard Binder (Islamic Liberalism) dan Charles Kurzman (Liberal Islam). Istilah ini digunakan untuk mengistilahkan Islam baru yang sejajar dengan berbagai mazhab dalam Islam, sehingga maksudnya adalah aliran pemikiran baru yang bersifat liberal di kalangan umat Islam.

Baca juga:

Namun demikian, Islam liberal tidak dapat dikategorikan sebagai mazhab Islam karena alasan-alasan berikut ini:
  • Islam Liberal tidak bersumber pada induk yang disepakati mazhab-mazhab dalam Islam, yaitu al-Qur'an dan al-Hadits.
  • Islam Liberal bertujuan meliberalkan Islam dan membongkar ajaran-ajaran yang telah disepakati seluruh umat Islam.
Dengan demikian, Islam Liberal bukan pemikiran Islam sebenarnya. Bahkan lebih tepatnya dikatakan bahwa Islam liberal adalah pemikiran liberal yang ditunjukkan pada Islam.

Prinsip-Prinsip Islam Liberal

Dalam memasarkan pemikirannya, kaum liberal memiliki beberapa prinsip, yaitu :
  1. Sekularisasi, yaitu pembebasan manusia dari kungkungan agama dan metafisika/hal ghaib yang berkaitan dengannya.
  2. Pluralisme agama, yaitu paham yang menyamakan semua agama (semua agama itu benar).
  3. Dekonstruksi agama, yaitu membongkar ajaran-ajaran agama yang telah mapan.

Isu-Isu Central Liberalisme

Liberalisme memiliki beberapa isu sentral, yaitu :
  1. Sekularisme
  2. Pluralisme agama
  3. Kritik al-Qur'an
  4. Hermeneutik
  5. Feminisme
Berikut keterangan masing-masing isu sentral tersebut beserta tanggapannya.

1. Sekularisme
Dalam topik ini, aktivis liberalisme pernah mengatakan, "Agama Islam bila diteliti benar-benar dimulai dengan proses sekularisasi lebih dulu. Justru ajaran 'tauhid' itu merupakan Pangkal tolak proses sekularisasi besar-besaran."

Pernyataan di atas sangat jelas mengajak pada sekularisasi. Syaikh Ahmad bin Isa al-Anshari dalam Syarah Umm al-Barahin telah menjelaskan bahwa makna "laa ilaa ha illallah" mencakup nafi dan itsbat, yaitu menafikan semua individu dari hakikat ketuhanan selain Allah Swt, dan menetapkan satu individu sebagai satu-satunya Tuhan yaitu Allah Swt.

2. Pluralisme Agama
Aktivis Liberal mengatakan, "Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi Islam bukan yang paling benar."

Pernyataan di atas meniscayakan kesimpulan, bahwa semua agama itu sama dan benar. Padahal seorang muslim harus meyakini bahwa hanya Islam agama yang paling benar. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 85, "Barang siapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi."

Seorang pakar Tafsir dan Fiqih Syafi'i asal Kairo Mesir, Muhammad al-Syirbini al-Khatib menjelaskan bahwa, "Di antara penyebab murtad (keluar dari Islam) adalah tidak menganggap kufur pemeluk agama selain Islam seperti Nasrani, atau atas kekufurannya."

3. Kritik Terhadap Al-Qur'an
Dalam melontarkan kritik terhadap al-Qur'an, seorang aktivis liberal pernah mengatakan, "Sebagian besar kaum muslim meyakini bahwa Al-Qur'an dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim (mengubah kata menjadi teks), baik kata-katanya maupun maknanya. Keyakinan semacam ini sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari doktrin-doktrin Islam, hakikat, dan sejarah penulisan Al-Qur'an sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (halus) dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik, dan rekayasa."

Pendapat semacam ini tidaklah benar. Para ulama telah mengingatkan, mengingkari satu huruf al-Qur'an menyebabkan pelakunya murtad. Sebagaimana pendapat Abu Bakr bin Syattha (w. 1300 H), menjelaskan, mengingkari kemu'jizatan al-Qur'an atau mengingkari satu huruf darinya merupakan perbuatan murtad. (I'anah at-Thalibin).

4. Hermeneutika 
Para pemuka Kristen mengakui bahwa teks Bibel tidak semuanya Wahyu Tuhan. Di dalamnya terdapat karangan-karangan manusia, lalu dikembangkan menjadi metodologi penafsiran Bibel yang disebut dengan nama hermeneutik.

Hermeneutika yang asalnya merupakan metodologi untuk mencari kebenaran Bibel, lantas diterapkan Untuk menafsirkan Al-Qur'an oleh kaum liberal.

Kesimpulan teolog Kristen tentang penerapan hermeneutika pada Bibel adalah sebagai berikut:
  • Teks Bibel bukan Wahyu Tuhan
  • Ada pengarangnya 
  • Pembaca mempunyai jarak massa maupun bahasa dengan Wahyu Tuhan yang sebenarnya 
  • Pembaca tidak bisa memahami firman Tuhan mereka sendiri 
  • Teks Bibel sangat bermasalah
Apabila hermeneutik ini diterapkan pada Al-Qur'an. maka teori tersebut dapat merusak keimanan umat Islam terhadap Allah, Rasul-Nya, Al-Qur'an,  dan ajaran-ajarannya karena umat Islam akan mempertanyakan :
  • Apakah teks-teks Al-Qur'an benar?
  • Benarkah kalamullah?
  • Bukankah bahasanya bahasa manusia, merupakan budaya dan sejarah manusia?
  • Tidakkah sudah bercampur dengan kata-kata manusia?
  • Apakah Allah berbahasa Arab?
Selain itu penggunaan hermeneutik sebagai metodologi penafsiran nasional agama Islam sudah ditolak dalam forum resmi Muktamar NU ke 31 di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, pada tanggal 29 November sampai tanggal 1 Desember 2004 atau 16-18 Syawal 1425 Hijriyah.

5. Feminisme 
Feminisme di barat bertujuan untuk mewujudkan persamaan antara laki-laki dan perempuan. Di Indonesia sendiri, kaum feminisme menuntut persamaan dalam hukum-hukum syariat antara laki-laki dan perempuan. Seorang aktivis feminisme menyatakan:
  • Poligami tidak sah dan resmi dibatalkan karena undang-undang.
  • Perkawinan beda agama antara muslimah dan non muslim mestinya sah.
  • Masa iddah bukan untuk wanita saja, namun juga untuk kaum laki-laki yaitu 130 hari.
  • Istri boleh menjatuhkan talak
  • Bagian warisan laki-laki dan perempuan adalah sama.
Dari uraian-uraian di atas bisa disimpulkan bahwa Islam liberal bukan mazhab dalam Islam, tetapi pemikiran liberal yang ditunjukkan pada Islam. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel