Perkembangan Islam pada Masa Penjajahan

Perkembangan Islam pada Masa Penjajahan_Hampir genap 4 Abad Bangsa Indonesia mengalami penjajahan oleh negara-negara asing. Peristiwa ini terjadi pada abad ke-17 Masehi sampai pertengahan abad 20 Masehi. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 Masehi merupakan awal penjajahan politik terhadap Nusantara. Peristiwa ini seiring dengan semakin melemahnya pengaruh kerajaan Islam Samudera Pasai yang ditandai bergesernya perdagangan di Selat Malaka ke pelabuhan Aceh, di samping kehancuran Kerajaan Samudra Pasai akibat Serangan Majapahit pada masa sebelumnya yaitu tahun 1349 Masehi. Portugis menguasai Malaka selama beberapa tahun meskipun akhirnya harus menyingkir akibat perlawanan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

https://www.abusyuja.com/2019/10/perkembangan-islam-pada-masa-penjajahan.html
Meskipun penyerangan pada tahun 1513 Masehi yang dipimpin oleh Pati Unus dari kerajaan Islam Demak gagal, akan tetapi peperangan selanjutnya pada tahun 1527 Masehi di Banten yang dipimpin oleh Fatahillah atas perintah Sultan Trenggono berhasil menyelamatkan Banten dari cengkeraman Portugis.

https://www.abusyuja.com/2019/10/perkembangan-islam-pada-masa-penjajahan.html
Cornelis de Houtman -
Sumber :Wikipedia
Di tahun 1596 Masehi, Belanda di bawah kepemimpinan Cornelis de Houtman menginjakkan kakinya di pelabuhan Banten. Kedatangannya ini merupakan kedatangan kali pertama Belanda di Indonesia yang kemudian disusul oleh ekspedisi-ekspedisi selanjutnya secara bergelombang dan bertahap.

Belanda juga ikut mendesak kekuasaan Portugis yang kian melemah, sehingga pada tahun 1750 Masehi Belanda berhasil mengkonsolidasikan kekuasaannya atas Indonesia. Kenyataan ini diterima oleh kelompok ulama sebagai sesuatu yang harus dihadapi.


Selama tiga setengah abad menjajah Indonesia, Belanda menjalankan politiknya dengan cara memecah belah antar suku, antar daerah, antar, antar agama bahkan antar sesama kaum muslim. akibatnya persatuan bangsa menjadi tercerai berai. Kekuatan Islam menjadi lumpuh. Secara keagamaan, para ulama dengan tegas menolak dan mengajak rakyat Indonesia untuk tidak berperilaku dan berpenampilan seperti Belanda yang dianggap kafir. Menyerupai sebagian dari cara hidup mereka dikategorikan menjadi bagian dari golongan mereka.

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, peran ulama dalam perjuangan kemerdekaan melawan penjajah memang sangat besar. Di bawah kepemimpinan para ulama, rakyat Indonesia berhasil melakukan perlawanan patriotik. Baca juga :


Pada masa itulah muncul pahlawan-pahlawan Islam sekaligus berperan sebagai ulama seperti Sultan Hasanuddin di Sulawesi, Pangeran Hidayat dan Pangeran Antasari di Kalimantan, Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro, Cut Nyak Dien, Tuanku Imam Bonjol di Sumatera, Sultan Agung hanyokrokusumo dan Pangeran Diponegoro di Jawa. Beliau semua merupakan pahlawan yang memegang peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan melawan penjajah.

Namun pada kenyataannya, sifat dan corak perlawanan-perlawanan yang dilakukan pada masa itu masih bersifat kedaerahan. Maka dengan kondisi seperti itu sulit untuk mendapatkan seorang pemimpin yang sentral dan kokoh. Akibatnya, imperialisme atau penjajahan mampu bertahan lama di Indonesia. Kekuatan Islam yang masih terpencar di berbagai daerah menyebabkan tidak mampu menggalang perlawanan serentak terhadap imperialisme atau penjajahan Belanda.

Dalam keadaan semacam itu, ulama mengambil strategi perlawanan dengan cara menolak bekerjasama dengan pemerintah Belanda yang disebut Strategi politik nonkooperatif. Dengan strategi itu ulama tidak mau bekerja sama dan mengambil jarak pemisah dalam menentukan langkah-langkah positif untuk menyelamatkan umat dan generasi bangsa Indonesia dari rongrongan imperialisme.

Salah satu cara yang diterapkan oleh ulama-ulama terdahulu adalah dengan mendirikan pondok pesantren, madrasah, langgar atau mushola. Tujuannya adalah membangun basis pertahanan dan kekuatan di kalangan kaum muslimin dari serangan kaum penjajah dan menyelamatkan sisa-sisa kekuatan umat untuk menyusun kekuatan perlawanan. Perjuangan melalui jalur pendidikan yang dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu dalam jangka panjang sangat menguntungkan. Sebab Selain untuk memupuk jiwa keislaman, Juga dapat membangun persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Di samping melalui perjuangan politik dan pendidikan, para ulama juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui Revolusi fisik. Revolusi fisik yang dilakukan adalah dengan Membuat sebuah pertahanan di pondok pondok pesantren, Madrasah dan organisasi-organisasi. Dengan cara inilah mereka dapat menghasilkan kader-kader Islam yang siap untuk melakukan perjuangan bagi tanah air.

https://www.abusyuja.com/2019/10/perkembangan-islam-pada-masa-penjajahan.html
Jendral Imamura
Sumber : Wikipedia
Sistem perjuangan melawan penjajah di atas tidaklah hanya diterapkan dalam melawan penjajahan Belanda saja, Akan tetapi juga penjajah Jepang yang secara kejam menjajah Bangsa Indonesia. Hal ini dibuktikan terkait kedatangan tentara Nippon dari Jepang pada Maret tahun 1942 yang semula disambut hangat oleh bangsa Indonesia, namun ketika tentara Jepang menunjukkan kekejamannya dan kebrutalannya, sambutan hangat itu pun berubah menjadi kebencian. Sikap Jepang ini tampak dari Dekrit yang dikeluarkan oleh panglima tentara Jepang pertama di Jawa yaitu Jenderal Imamura yang melarang aktivitas politik bangsa Indonesia dengan sanksi hukuman bagi yang melawannya. Kemudian Kyai Haji Hasyim Asy'ari dan Kyai Haji Mahfudz Siddiq adalah diantara ulama yang melawan dan di penjara oleh tentara Jepang.

Namun demikian, Sikap ulama terhadap Jepang lebih mengedepankan sikap lunak dan diplomatis dibanding terhadap Belanda. Sikap ini mempermudah memperoleh kemenangan akhir bangsa Indonesia tanpa harus menambah banyak korban lagi. Sikap diplomatis ini bukan berarti menyerah, akan tetapi merupakan siasat politik mengalahkan lawan.

Rangkaian perjuangan panjang dan melelahkan yang dilakukan bangsa Indonesia di bawah pimpinan Ulama di atas, terbukti bangsa Indonesia mampu mengusir penjajahan Portugis, Belanda dan Jepang hingga berujung pada kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus tahun 1945.

Itulah sejarah tentang Perkembangan Islam pada Masa Penjajahan. Semoga dapat menambah wawasan anda.

Sumber : Mapel NU ASWAJA (Ahlussunnah Wal Jamaah)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel