Sihir Dalam Islam, Apakah Ada?

Abusyuja.com_Sihir merupakan sebuah ilmu yang tidak kasatmata, namun dapat membuat sebuah pengaruh terhadap objeknya. Lalu apakah benar hakikat sihir itu? Bagaimana pandangan Islam mengenai sihir.

http://www.abusyuja.com/2020/07/sihir-dalam-islam-apakah-ada.html

Para ulama tentunya berbeda pendapat mengenai hakikat sihir, apakah memang benar-benar ada ataukah hanya sulap (trik) atau khayalan belaka?

Baca juga: Doa Nubuwat, Tameng Penangkal Sihir

Menurut jumhur ulama (mayoritas ulama) Ahlussunnah Wal Jamaah (ASWAJA) berpendapat bahwa sihir itu benar-benar ada dan berpengaruh (terhadap orang yang terkena).

Sedangkan menurut Mu'tazilah, sihir hakikatnya tidak ada, tetapi hanya tipuan, palsu dan penyesatan. Dan bahwasanya sihir merupakan kategori dari sulap.

Kenapa sihir dikatakan khayalan atau tipuan?

Sebagaimana yang biasa dilakukan oleh sebagian tukang sulap, dimana ia memperlihatkan seolah-olah menyembelih burung pipit, dan setelah disembelih ia memperlihatkan kepada anda seakan-akan burung tersebut terbang. Ini merupakan kesamaran geraknya.

Burung pipit yang disembelih itu sebenarnya bukanlah burung yang terbang. Karena ia memiliki dua ekor burung pipit, yang satu ia sembunyikan, dan yang satunya lagi disembelih.

Sihir Zaman Fir'aun

Sihir seperti di atas sama persis dengan apa yang dilakukan oleh tukang-tukang sihir raja fir'aun. Dalam sebuah kitab bernama Rawai’ul Bayan menjelaskan mengenai pengungkapan kebohongan para tukang sihir pada zaman fir'aun.

Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa kebohongan tukang sihir pada saat itu adalah terletak pada tongkatnya, yang dimana telah mereka lubangi sedemikian rupa agar dapat diisi dengan air raksa. Kemudian mereka menggali beberapa lubang untuk diisi dengan api. Ketika tongkat-tongkat itu dilemparkan, maka bergeraklah tongkat tersebut karena bertemunya air raksa dengan api, kemudian orang-orang akan berkhayal bahwa tongkat tersebut bergerak dengan sendirinya.

Lalu bagaimana dengan dukun dan peramal?

Dalam Tafsir Ahkamul Qur’an juz 1 halaman 48, Abu Bakar Al-Jashahs berkata, “Berikut kami sampaikan alasan paling rasional, yang kiranya dapat menjelaskan kepada anda bahwa semua jenis sihir adalah buatan manusia dan tipuan belaka yang tiada realitanya. Andaikan dakwaan mendatangkan manfaat, mampu terbang (tanpa pesawat), mampu mengetahui hal-hal yang ghaib, menangkap berita-berita dari berbagai negara yang jauh, mengetahui barang-barang yang tersimpan dan barang-barang yang tercuri, dan mampu pula membuat orang lain celaka, tentulah mereka mampu memusnahkan kerajaan-kerajaan, mengeluarkan benda-benda simpanan dan mampu pula menaklukkan raja-raja dengan tanpa kendala dan tidak membutuhkan upah orang lain.”

Bagaimana mungkin, dukun yang dapat membuat kaya orang lain, masih mengemis meminta upah kepada orang tersebut? Maka jelas bahwa mereka itu adalah sejelek-jeleknya orang dalam perilakunya, kerakusannya, tipu muslihatnya, serta kecerobohannya dalam mengeruk harta benda orang lain.

Argumentasi Mu'tazilah Mengenai Sihir

Kaum Mu'tazilah mempunyai persepsi bahwa sihir itu tidak ada realitanya. Berikut beberapa ringkasan argumennya:

  1. Dalam QS. Al-A’raf ayat 116, Allah Swt. Berfirman, “Mereka menyulap mata orang-orang dan membuat mereka ketakutan.”
  2. Dalam QS. Thaha ayat 66, Allah Swt. Berfirman, “Terbayanglah atas Musa, seakan-akan tambang-tambang dan tongkat-tongkat itu berjalan.”
  3. Serta dalam QS. Thaha ayat 69, Allah Swt. Berfirman, “Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.”

Ayat pertama menjelaskan bahwa sihir hanyalah mengelabui mata saja. Ayat yang kedua mempertegas bahwa sihir hanyalah khayalan yang tidak kenyataan. Dan ayat yang ketiga menetapkan bahwa sesungguhnya tukang sihir itu tidak mungkin mendapatkan kemenangan dan keuntungan.

Mereka (Golongan Mu'tazilah) berkata, “Andaikata tukang sihir itu berjalan di atas air atau terbang di angkasa atau mengubah debu menjadi emas yang murni, maka batallah kepercayaan adanya Mu'tazilah para Nabi dan berbaurlah antara kebenaran dengan kebatilan. Maka tidak ada perbedaan lagi antara seorang Nabi dengan tukang sihir, karena tidak ada bedanya antara Mu'tazilah dan praktek tukang sihir, dan terkesan bahwa semuanya itu adalah sejenis.”

Argumentasi Jumhur Ulama 

Mayoritas ulama sepakat bahwa sihir itu ada kenyataannya dan dapat berpengaruh. Allah Swt. berfirman, 

“Mereka menyulap mata orang-orang dan membuat mereka takut serta mereka membuat sihir yang besar.” (QS. Al-A’raf: 116)

Selain itu, persepsi jumhur ulama ini juga dikuatkan dengan firman Allah Ta’ala yang berbunyi,

“Maka mereka belajar dari keduanya (malak Harut dan Marut) apa yang bisa menceraikan suami dan istrinya.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Firman Allah Swt., 

“Dan tidaklah mereka (tukang-tukang sihir) dapat memberi bahaya kepada seorang pun melainkan dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Dan yang terakhir, persepsi jumhur ulama ini juga ditegaskan lagi dalam firman-Nya yang berbunyi, 

“dan (aku berlindung) dari kejahatan perempuan-perempuan tukang sihir yang menghembuskan simpul-simpul.” (QS. Al-Falaq: 4)

Dari dalil-dalil di atas dapat kita simpulkan:

Ayat pertama menunjukkan adanya hakikat sihir berdasarkan firman-Nya. Ayat kedua menetapkan bahwa sihir itu ada kenyataannya di mana disertai dengan salah satu jenis sihir yang dapat menceraikan antara suami dan istri, dalam telinga kita lebih akrab kita sebut pelet, santet, pesugihan, dan lain sebagainya. Di ayat tersebut juga menjelaskan bahwa sihir juga mampu menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara sepasang suami istri.

Baca juga: Doa Agar Dilindungi dari Sihir dan Kedengkian Orang Lain

Ayat ketiga menetapkan adanya bahaya bagi sihir itu, tetapi tergantung kepada kehendak Allah Swt. Sedangkan ayat ke empat menunjukkan betapa besarnya pengaruh sihir itu, sehingga kita diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah Swt. dari kejahatan tukang-tukang sihir.

Apakah Rasulullah pernah disihir?

Dalam kitab Jam’ul Fawaid Juz II halaman 327, ada sebuah riwayat hadis yang menjelaskan bahwa ada seorang Yahudi yang menyihir Nabi Saw., sehingga beliau menderita sakit beberapa hari, lalu datanglah Jibril seraya berkata, “Sesungguhnya adalah seorang Yahudi yang menyihir engkau, ia membuat simpulan-simpulan dan ia taruh di sumur ini dan sumur itu.” Maka Rasulullah mengutus (salah seorang sahabat) lalu mengeluarkan simpulan-simpulan itu dan melukarnya. Maka Nabi Saw. bangun seketika, seakan-akan beliau terlepas dari ikatan. (HR. Nasa’i)

Kesimpulan

Dari beberapa argumentasi di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa persepsi jumhur ulama adalah lebih kuat, karena sihir memang ada kenyataannya dan berpengaruh dalam jiwa. Timbulnya kebencian antara suami dan istri, perpecahan antara seseorang dengan keluarganya, dan pemisah rumah tangga sebagaimana yang ditetapkan dalam Al-Qur’an tak lain adalah pengaruh dari sihir.

Andaikata sihir itu tidak memiliki pengaruh atau dampak, tentu Al-Qur’an tidak menyuruh memohon perlindungan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang meniup simpul-simpul. Namun, kebanyakan sihir adalah dengan cara meminta pertolongan kepada roh-roh tak kasatmata.

Contoh, pelet atau sihir mahabbah (demen/cinta). Sihir ini memanipulasi mata korbannya agar hatinya selalu terpikat dengan orang yang memakai peletnya. Pelet sendiri banyak sekali jenisnya, ada yang memakai ritual, ada juga yang memakai rajah.

Dan yang terakhir, meskipun sihir dapat berdampak atau berpengaruh, namun tetap saja semua itu atas izin Allah Swt. itulah kebenaran sihir yang perlu anda ketahui, tentunya sesuai dengan kacamata Islam. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat. Wallahu A'lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel