Pengertian Tawasuth, I'tidal, Tasamuh, Tawazun dan Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Abusyuja_Nahdlatul Ulama merupakan organisasi yang didirikan pada 16 Rajab tahun 1344 Hijriyah atau 31 Januari 1926 Masehi. NU sendiri memiliki fungsi yang sangat penting, khususnya bagi kalangan umat Islam di Indonesia. Baca juga : Inilah 3 Alasan Kenapa NU (Nahdlatul Ulama) Didirikan.

Tetapi pada kesempatan kali ini, kami tidak akan membahas panjang lebar mengenai sejarah Nahdlatul Ulama. Yang akan kita bahas kali ini adalah Pengertian Tawasuth, I'tidal, Tasamuh, Tawazun dan  Amar Ma'ruf Nahi Munkar yang menjadi pokok dasar sikap-sikap masyarakat NU.

https://www.abusyuja.com/2019/10/pengertian-tawasuth-itidal-tasamuh-tawazun.html

Pengertian Tawasuth, I'tidal, Tasamuh, Tawazun dan  Amar Ma'ruf Nahi Munkar 

Secara garis besar, pendekatan kemasyarakatan Nahdlatul Ulama terbagi menjadi 4 bagian yaitu :

1. Tawasuth (Jalan Tengah)

Tawasuth adalah mengambil Jalan Tengah, yaitu sikap tidak condong kepada ekstrem kanan ( Kelompok yang berkedok agama) maupun kelompok ekstrem kiri( kelompok komunis). Tawasuth ini juga bisa didefinisikan sebagai sikap moderat yang berpijak pada prinsip keadilan serta berusaha menghindari segala bentuk pendekatan dengan tatharruf ( ekstrim, keras).

Dalil Tawasuth

Berikut dalil yang berkaitan dengan Tawasuth QS. Al-Baqarah Ayat 143 :

2. I’tidal (Tegak Lurus)

I'tidal artinya tegak lurus, yaitu Sikap tegak dalam arti tidak condong pada kepentingan di luar Nahdlatul Ulama dan umat. Lurus dalam arti semata-mata berjuang demi kepentingan NU dan umat. Sikap ini pada intinya memiliki arti menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan  lurus di tengah-tengah kehidupan bersama.

Baca juga :
- 14 Macam Lembaga NU Serta Tugas dan Fungsinya
- 11 Macam Badan Otonom NU Serta Tugas dan Fungsinya
- Penjelasan Struktur Organisasi NU Lengkap dengan Bagannya

Kesimpulannya, Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang condong pada faham-faham ekstrim.

3. Tasamuh (Toleran)

Tasamuh artinya toleran, maksudnya adalah bahwasanya NU toleran terhadap perbedaan pandangan dalam masalah agama budaya dan adat istiadat.

Kesimpulannya Tasamuh adalah sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu' atau menjadi  masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.

Contoh : Menghargai agama lain yang di terapkan di Bali. Mereka saling menghargai dalam permasalahan lingkup agama dan budaya. Jika umat Hindu merayakan Nyepi, umat Muslim disana juga menghargai dengan cara tidak keluar dari rumah.

4. Tawazun (Seimbang)

Tawazun artinya seimbang, yaitu Sikap seimbang Dalam berkhidmah demi terciptanya keserasian hubungan antara sesama umat manusia dan antara manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Dalam bahasa sederhana, kita sering menyebutnya sebagai hubungan vertikal dan horizontal. Maksud vertikal adalah hubungan kita dengan tuhan (Allah). Sedangkan maksud horizontal adalah hubungan kita dengan manusia. Sebagai warga Nahdlatul Ulama, kita dituntut untuk seimbang dalam menjalani hubungan, entah hubungan dengan tuhan maupun dengan manusia. Jadi kita tidak boleh mengabaikan salah satunya.

Contoh : Kita selalu beribadah pagi siang malam tak henti henti, tetapi dengan tetangga sendiri kita acuh dan tidak mau menyapa jika bertemu. Begitu juga sebaliknya, dengan tetangga kita ramah, dermawan dan baik hati, tetapi tidak pernah beribadah.

Kesimpulannya, kita sebagai warga NU harus memiliki sikap Tawazun (Seimbang), yaitu keseimbangan berhubungan dengan tuhan dan manusia. Dan keseimbangan mencari akhirat dan dunia.

5. Amar Ma'ruf  Nahi Munkar

Yang terakhir adalah Amar Ma'ruf Nahi Munkar, yaitu selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama. Serta menolak dan mencegah segala hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.

Nahi Munkar disini bukan berarti kita melawan kemungkaran dengan kemungkaran. tetapi harus dengan ma'ruf (kebaikan). Jadi tidak boleh melawan kejahatan dengan kejahatan. Jika demikian, berarti kita tidak ada bedanya dengan mereka.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel